Selama menjadi mahasiswa di ibukota provinsi ini, aku selalu dan hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan milik pemerintah provinsi, sehingga hampir semua pegawai yang bekerja pada instansi ini mengenalku dan akrab denganku, baik yang pria dan wanitanya. Namun dalam
pikiran nakalku yang mampu menilai sesorang, hanya terdapat dua orang ( yang jelas wanita ) yang mampu menarik perhatianku sehingga aku selalu memberikan atensi yang lebih terhadap dua orang ini Yang pertama adalah staf bagian informasi dan teknologi yang sebut saja namanya Mbak Diah, aku memanggilnya begitu, 32 th-an, perempuan cantik semampai proporsional berkulit putih berambut sepunggung yang selalu memakai supra-nya setiap ke kantor, belum menikah dan aku belum terlalu mendalami kehidupan pribadinya. Kedua adalah staf administrasi yang berkantor di lantai tiga bangunan ini, Ibu Ayu, manis berambut sebahu, 37 th-an, corak standar manusia-manusia Indonesia, menikah dan punya 2 anak, yang paling kecil SMP kelas 2 dan satunya SMU kelas 3, escudo kuning yang selalu menemaninya tiap pagi saat berangkat ke kantor. Dari kedua wanita tersebut hanya dengan Ibu Ayu saja aku tampak lebih akrab sehingga aku pun mengetahui dengan benar seluk beluk kehidupan rumah tangganya beserta dengan segala masalah yang dihadapinya. ***** Suatu siang, saat aku baru datang, kulihat Ibu Ayu sedang melihat TV yang memang sengaja dipasang di lobby untuk para pengunjung instansi ini, kudekati dan duduk di sebelahnya. Siang, Bu!, lagi santai nih? Tanyaku membuka percakapan Eh, Dik Adi!, iya, tadi habis kunjungan keluar bareng ibu kepala dan nganter si Santi (putri tertuanya) pulang. Udah selesai kuliahnya? jawabnya Sudah.., tadi cuma ada satu mata kuliah O gitu!, O ya, ntar malam di ***** Cafe ada konsernya ( Ibu Ayu menyebut satu nama Band yang baru ngetop di Indon), mau nonton nggak?Sama Santi, ya!, ntar saya ikut! Kataku merajuk soalnya anaknya itu menuruni kecantikan ibunya sewaktu muda Ya, nanti Santi tak suruh ikut! Lha emang Bapak ( suaminya ) kemana, Bu? Lagi mengikuti Pak Walikota ke Jakarta sampai tiga hari mendatang Okelah kalau begitu, nanti sore saya kesini lagi, trus berangkat! Sip kalau begitu Jawabnya senang ***** Sore yang dijanjikan pun tiba, aku masuk kedalam kantornya dan menemukan dia sedang membereskan beberapa map pekerjaannya. Tunggu di bawah ya, Dik!, aku mau ganti baju, dan tadi Santi telepon katanya tidak bisa ikut karena besok ada ulangan dan agak tidak enak badan Katanya menyambutku Dan aku pun mengeluh, gagal deh kencan dengan Santi Tak berapa lama kutunggu, Ibu Ayu sudah menemuiku dengan berganti pakaian dinasnya menjadi blus ketat dengan jins, wah.., oke juga nih ibu-ibu, nggak mau kalah dengan yang muda dalam soal dugem. Ayo! Ajaknya Aku pun mengikutinya menuju escudo kuningnya dan berlalu dari kantor instansi tersebut. Kemana kita?, bukannya konsernya ntar malam? Tanyaku Bagaimana kalo kita cari makan dulu sambil ngobrol-ngobrol nunggu jam lapan buat nonton konser ? Usulnya Boleh juga!, dimana? Ntar, liat aja, biar Ibu yang charge, OK! Aku pun mengangguk mengiyakan nya Di sebuah resto china dijalan protokol kota ini, setelah menyantap hidangan laut, kami pun mengobrol mengahbiskan waktu dengan membahas berbagai persoalan baik itu maslah sosial maupun pribadi. Seperti halnya Ibu Ayu menceritakan padaku tentang bagaimana menjemukannya kehidupan rumah tangganya. Wah, kalau soal itu saya tidak bisa memberikan pendapat, Bu!, masalahnya saya belum pernah berumah tangga. kataku merespon nya Ini cuma sekedar curhat koq, Dik!, biar besok menjadi semacam panduan bila nantinya dik Adi sudah menjalan kehidupan bersama Jawab Ibu Ayu diplomatis Dan, jangan panggil Ibu, dong!, panggil saja Mbak, khan usia kita ngga terlalu jauh banget bedanya, paling cuma 13 tahun ! Tambahnya Dan aku pun tertawa mendengar kelakar tersebut. Ketika waktu telah menunjukkan saatnya, kami keluar dari resto tersebut disambut dengan gerimis, berlari-lari menuju mobil untuk meluncur ke cafe yang dimaksud. Selama konser tampak Ibu Ayu sangat menikmati suasana tersebut sambil sesekali mengenggam tanganku, sehingga mau tidak mau pun aku menjadi ikut terbawa oleh suasana yang menyenangkan. Konser pun berakhir, dan saatnya kami untuk pulang. Sambil-sesekali berceloteh dan bersenandung, kami menuruni tangga cafe, yang entah karena apa, Ibu Ayu terpeleset namun untunglah aku sempat memegangi nya namun salah tempat karena secara reflek aku menariknya kedalam pelukan ku dan tersentuh buah dadanya. Sejenak Ibu Ayu terdiam, memandangku, mempererat pelukannya dan seakan enggan melepaskannya. Bu, eh..Mbak, udah dong, malu ntar dilihat orang Kataku Dia pun melepaskan pelukannya, dan kami menuju ke mobil dengan keadaan Ibu Ayu sedikit pincang kaki nya. Tengah malam kurang sedikit, kami sampai di rumah Ibu Ayu, karena aku sudah terbiasa pulang pagi, jadi kudahulukan untuk mengantar kerumahnya untuk memastikan keadaannya. Rumah dalam keadaan sepi, penghuninya sudah tidur semua kurasa, dan aku pun duduk di sofa sambil sejenak melepaskan lelah. Sambil terpincang-pincang, Ibu Ayu membawakan segelas teh manis hangat untukku, dan duduk di sampingku. Aku jadi teringat kejadian di tangga cafe tadi. Masalah tadi, maafin saya Mbak, itu reflek yang nggak sengaja. Kataku Nggak papa koq, Mbak ngga hati-hati si, pegel banget nih! Katanya Sini saya pijitin kataku sambil mengangkat kakinya dang menggulung celana jins nya sampai selutut Dia pun merebahkan badannya agar aku bisa leluasa memijitnya. Tak berapa lama kemudian dia bangkit sambil ikut memijiti kakinya sendiri. Saat tangan kami bersentuhan ada getar-getar halus yang kurasakan menggodaku namun berhasil kutepiskan. Namun tak disangka, Ibu Ayu memegang lengan ku dan menarikku ke dalam pelukannya. temani aku malam ini, Dik! Bisiknya lirih di telingaku Kurasa habislah pertahanan ku kali ini. Di lumatnya bibirku dengan ganasnya, apa boleh buat, aku pun memberikan respon serupa. Kami saling berpagut dengan sesekali mempermainkan lidah. Tangannya menggerayangi tubuhku, mengusap-usap celanaku yang menggembung, sedangkan aku meremas-remas buah dadanya yang masih cukup ranum untuk wanita seusianya. Lama kami bercumbu di atas sofa, lalu Ibu Ayu menggamitku untuk memasuki kamarnya, dan kami meneruskan cumbuan sepuas-puasnya. Foreplay dilanjutkan setelah kami saling membuka baju, hanya tinggal mengenakan celana dalam saja kami bergelut di atas kasur yang empuk dalam kamar berpendingin udara. Kujilati puting susunya sampai Mbak Ayu mendesah-desah, sementara tangannya menggengam kemaluanku yang dengan lembut dikocoknya perlahan. Mbak.., aku buka ya, celananya! Bisikku yang disambut dengan anggukannya Setelah secarik kain tipis itu terlepas dari pinggulnya, Ibu Ayu mengangkang kan pahanya, dan tampak vaginanya yang kehitaman tertutup lebat rambut. Saat kusibak kerimbunan itu, gundukan daging itu berwarna kemerahan berdenyut panas. Ibu Ayu memekik dan mendesah perlahan saat vaginanya kujilati. Ditekan nya kepalaku sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, sampai suatu saat kurasa vaginanya mulai basah dengan keluarnya lendir yang berlebihan. Dengan nafas terengah-engah Ibu Ayu menarik kemaluanku untuk dimasukkan kedalam vaginanya. Kupegan tangannya dan kupermainkan kemaluanku di pintu masuk liang kenikmatan nya itu beberapa lama, kupukul-pukul kan kepala kemaluanku dibibir vaginanya, kumasukkan kemaluanku sedikit dalam vaginanya lalu kutarik keluar kembali, begitu berulang-ulang. Ayo dong, Dik!, jangan buat aku semakin bisiknya Tapi aku belum pernah berhubungan badan, Mbak! Balasku berbisik Ayolah, Dik!, aku beri kamu pengalaman menikmati surga ini, ayo..! Akupun mengangguk Ibu Ayu berbaring telentang di pinggiran ranjang dengan kaki mengangkang, sementara aku berlutut hendak memasukkan kemaluanku. Di pegangnya kemaluanku dan di arahkan ke dalam vaginanya, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku dibibir vaginanya sementara dia mendesah-desah, lalu dengan dorongan perlahan kubenamkan seluruh kemaluanku kedalam liang vaginanya. Sebuah sensasi kenikmatan dan kehangatan yang luar biasa menyelubungi ku, sejenak keresapi kenikmatan ini sebelum Ibu Ayu mulai mengalungkan pahanya pada pinggulku dan memintaku untuk mulai menyetubuhi nya. Kudorong tubuh Ibu Ayu ketengah ranjang, setelah tercapai posisi yang enak, kugerakkan pinggulku maju mundur mengeksplorasi seluruh kenikmatan yang dimiliki oleh Ibu Ayu. Ruangan kamar yang dingin seolah tidak terasa lagi, yang ada hanya lengguhan-lengguhan kecil kami di timpahi suara kecepok beradunya kemaluan kami, sementara disekeliling kepala kami terbungkus dengan hawa dan bau khas orang bersetubuh. hh..terus, Dik!, goyangnya yang cepat..Ohh..ohh, Ouuch! Desahnya Yang erat, Mbak!, ayo sayang,..sshh,..hhh.. Desahku Ouuwhh..,lebih ceaaahhhh! Tenang aja, maniskuohh.., enak Mbak! Sss.sama aku jugaohh..ohh! Entah sudah berapa lama kami saling bergelut mencari kenikmatan, lambat laun kemaluanku terasa seperti diremas-remas, lalu Ibu Ayu mendesah panjang sebelum pelukannya terasa melemah. aku.., sam,Dik!, Aaaaakkhhh ! Desahnya Kurasakan momen ini yang ternikmat dari bagian-bagian sebelumnya, maka sebelum remasn-remasan itu mengendur, kupercepat gerakanku dan kurasakan panas tubuhku meningkat sebelum ada sesuatu yang berdesir dari seluruh bagian tubuhku untuk segera berebut keluar lewat kemaluanku yang membuatku bergetar hebat dengan memeluk tubuh Ibu Ayu lebih erat lagi Ohhh..ohh.! Desahku tak lama kemudian Aku bergulir di samping Ibu Ayu mencoba mengatur nafas, sementara dia terpejam dengan ritme nafas yang tak beraturan juga. Kemaluan ku masih tegak berdiri berkilat-kilat diselimuti cairan-cairan licin sebelum lemas Setelah beberapa saat, nafasku pulih kembali, kubelai rambut Ibu Ayu. Dia tersenyum padaku. Makasih, Mbak! Enak sekali tadi Kataku tersenyum Sama-sama,Dik! Hebat sekali kamu tadi, padahal baru pertama, ya! jawabnya Ibu Ayu mencoba duduk, kulihat cairan spermaku meleleh keluar dari lipatan vaginanya yang lalu di usapnya dengan selimut. Aku keluarkan di dalam tadi, Mbak! habis enak dan ngga bisa nahan lagi, ngga jadi anak khan nanti? Tanyaku Enggak, santai saja, sayang! Katanya manja sambil mencium pipiku Emm..,Mbak! Tanyaku Apa sayang? Jawabnya Kapan-kapan boleh minta lagi, nggak? Anytime, anywhere, honey! Katanya sambil memelukku dan melumat bibirku. ***** Setelah kejadian itu, tiga hari berikutnya aku menikmati servis istimewa dari Ibu Ayu untuk lebih mengeksplorasi ramuan kenikmatan dengan berbagai gaya yang diajarkan olehnya, bahkan masih berlangsung hingga saat ini. Pada mulanya anaknya yang kuincar menjadi cewek ku, ternyata malah mendapat layanan plus yang memuaskan dari ibunya.
ngincer anak dapat ibunya
X_SCORPION'S, Selasa, 10 November 2009angie dan intan
X_SCORPION'S,Perkenalkan dulu namaku Andra .Aku adalah pengirim cerita Senandung Masa Puber.Sekarang aku sudah kelas 1 SMU di kotaku yaitu Klaten. Aku orangnya imut, manis (kata temenku aku mirip bintang film India) dan aku juga seorang model di kota yogyakarta sehingga cewek cewek banyak yang ingin menjadi
pacarku. Aku juga gaul jadi banyak teman yang sering datang kerumahku. Aku mempunyai tetengga belakang rumahku yang bernama Intan dan Anggi. Intan orangnya manis,tinggi,dan bongsor mirip anak yang berumur 16 tahun. Dia masih kelas 6 SD sedangkan Anggi adik Intan yang sedang kelas 4 SD. Dia juga bongsor sama dengan Intan tetepi bedanya dia agak pendek dan juga Anggi lebih putih, cantik serta lincah juga. Intan anaknya montok dan yang membikin aku tidak tahan adalah pentilnya yang besar itu berukuran 32B. Dia suka memakai celana pendek dan atasannya hanya memekai kaos tipis dalamnya memakai kaos dalam yang longgar tanpa Bh atau Bh saja sehingga pentilnya yang berwarna coklat muda kelihatan sedikit membayang bila memakai kaos dalam saja. Kalau Anggi orangnya suka memakai rok mini yang minim banget atau sebatas pertengahan paha sehingga paha mulus Anggi kelihatan dan atasannya memakai kaos tipis tanpa memakai pakaian dalam sama sekali sehingga pentilnya yang berukuran 34A kelihatan tercetak jelas. Dia juga senang menggodaku dengan memakai celana ketat sepangkal paha milik Intan tanpa celana dalam dan atasannya memakai tengtop tanpa miniset (dia suka memakai miniset) bila aku bermain kerumahnya kalau tidak ada orang tuanya sehingga semua tubuhnya terbayang jelas dibalik pakaiannya yang serba tipis membuat aku tak tahan.Dan bila dia sudah begitu aku langsung mendekatinya dan memeluk serta meraba raba pentil dan tempiknya yang membukit dibalik celana ketatnya. Kalau Intan suka menggoda aku bila bermain kerumahnya dengan memakai rok Anggi yang mini didalamnya tanpa celana dalam dan atasanya hanya memakai kaos dalem putih/coklat tipis banget hingga pentilnya seperti dia pamerkan kepadaku. Aku menyetubuhinya pertama kali saat aku,Intan,dan Anggi berenag dikolam renang rumah Intan. Ceritanya begini: Saat itu hari Minggu(12 Februari 2003)aku main kerumah Intan dan Anggi yang kelihatannya lagi sepi.Saat aku tanya ke Anggi papa dan mamanya lagi kemana dia mengatakan kalau papa dan mamanya lagi keSemarang dan pulangnya lusa dan dirumah hanya ada mereka berdua dan pembantu perempuan yang berumur 22tahun bernama mbak Asih.Lalu aku mengajaknya berenang dirumahnya yang ada kolam renangnya dibelakang rumahnya. Anggi langsung senang dan mengajak Intan kakaknya. Intan langsung keluar dan saat itu dia hanya memakai kimono tidur dan kelihatanya dia tidak memakai apa apa didalamnya dia mengiyakan ajakan adiknya.Aku langsung masuk kerumahnya yang sedang sepi itu dan mencuri curi pandang kearah tempik dan paha Intan yang kelihatan saat Intan duduk didepan ruang keluarga.Saat itu aku memakai celana pendek yang dari bahan parasut atasanya kaos junkies.Aku meminjam celana Intan agar bajuku tidak basah. �Intan aku pinjam dong celana kamu biar bajuku tidak basah�kataku �Sebentar yah aku ambilin�katanya dan dia meminjamiku celana yang ketat tapi bisa mengembang berwarna kuning �Bentar yah aku ganti baju dulu�katanya dan masuk kekamar Anggi.Aku langsung mengganti bajuku dengan celana Intan didepan Tv karena Anggi dan Intan sedang berganti baju dikamar. Saat itu aku sedang telanjang tanpa memakai apapun dan Anggi keluar tanpa aku sadari karena posisiku didepanya membelakanginya. Intan dari tadi memperhatikanku dari belakang.Tau tau dia sudah memegang kontolku yang sedikit ngaceng karena melihat paha dan tempik Intan. �Eh kok menganggu angguk ini apa sih,ada rambutnya lagi?�tanyanya sambil memegang kontolku �Eh Anggi kamu sudah ganti baju�tanyaku gugup tapi tanpa menepis tangan Anggi yang memegangi kontolku karena Anggi meremas remasnya sehingga kontolku geli geli nikmat rasanya. �Ya sudah dong�katanya sambil tetap meremas kontolku.Dia memakai baju renang yang sangat sexy banget bawahnya celana dalam nilon tipis berwarna pink terusanya seperti tengtop tipis banget dari kaos berwarna kuning sehingga semua bentuk tubuh Anggi kelihatan sekali menambah ketegangan kontolku apalagi ditambah remasan Anggi. �Lepasin dong kan sakit tititku� kataku pura pura tapi didalam hati aku berkata nanti aja kalau kita udah berenang.Dia melepaskan kontolku aku langsung memakai celana Intan.Kontolku membayang jelas dibalik celana nilon tipis Intan mirip ulat yang melintang keatas.Lalu aku ikutan duduk dan memeluk Anggi yang sedang duduk dikursi ruang keluarga itu.Aku memeluknya dari belakang karena Anggi duduknya membelakangiku.Tanganku langsung hinggap dipentil Anggi dan meremasnya pelan pelan. �Ah geli,eh�tapi kok enak yah�katanya sambil memegang tanganku tanpa menariknya. �Enakkan,tadi tititku juga keenakan kayak gini�kataku sambil berusaha memasukan tanganku kedalam pakaian renang Anggi dan menarik tali pakaian renangnya yang berbentuk tengtop itu hingga terlepas sedikit tapi sudah memperlihatkan pentil Anggi yang sebesar tutup teko itu. �Nggi balik sini dong�kataku sambil menariknya agar menghadap ke aku.Dia langsung berbalik dan saat itu juga pentil indah milik gadis kecil terlihat jelas dihadapanku.Pentil cewek kecil dengan puting merah muda menggemaskan �Eh diliatin terus�katanya sambil menarik kembali tali bajunya keatas dan aku hanya senyum saja.Saat itu Intan keluar. Pakaian Intan tak kalah sexynya dengan adiknya.Dia memakai tengtop dengan terusan rok sebatas lutut dari bahan nilon berwarna hitam dan kelihatanya dia tak memakai apa apa didalamnya karena pentilnya jelas tercetak dibalik tengtopnya yang tipis. �Wah kamu cantik banget lho Ta�kataku.Pandangan Intan kebawah bagian kontolku. �Ih lucu apaan tuh yang panjang�katanya menunjuk kontolku Dasar anak anak kataku dalam hati.�Ini namanya titit�kataku sambil ngeluarin kontolku yang sejak tadi ngaceng. �Ta aku nggak pakai ini aja deh,kesempitan�kataku sambil melepas celana Intan memperlihatkan kontolku yang berjembut lebat lalu mengembalikanya.Aku sengaja melepasnya karena aku ingin Anggi dan Intan melihat kontolku dan supaya kontolku bebas bergerak. �Ya udah sini aku kembaliin�katanya sambil meraba kontolku.Seeerrrr tangan halusnya menyentuh kontolku yang mengangguk angguk ngaceng. Lalu kami keluar dan kekolam renang dibelakang rumah dan tak lupa menutup pintu depan rumah Intan agar tak ada tamu yang datang.Aku berenang dengan mereka dengan telanjang bulat tanpa malu malu karena mereka belum mengerti apa apa.Saat aku tidak berenang dan tiduran di pinggir kolam sambil mengelus elus kontolku yang aku biarkan tegang Intan mendekatiku lalu disusul Anggi dibelakangnya. �Eh lucu kayak burung�kata Intan sambil memegang dan meremas kuat kontolku karena gemes.Aku yang diremes jadi sedikit kesakitan �Ukhh sakit Ta jangan diremes tapi diginiin�kataku sambil menaik turunkan kontolku. Lalu Intan memegangnya dan menaik turunkan kontolku. �Begini�katanya �Shhhh�.ahhhh Taa mmhhh�kataku sambil memegangi pundaknya. �Kenapa sakit ya tititnya�tanyanya menghentikan kocokanya �Nggak kok terusshhh enak kok�kataku lalu tanganku memegang pentil Intan yang basah tercetak dipakaiannya. �Jangan pegang basah nih�katanya sambil terus mengocokku.Aku tak peduli dan terus meremas pentilnya malah menurunkan tali tengtop yang ada di bahunya hingga pentilnya yang putih mulus dengan puting coklat muda kelihatan menggiurkan. �Shhhh terusss�kata Intan mulai merasa keenakan pentilnya aku remas remas. �Kak ikutan dong Anggi dari belakang lalu duduk menghadapku. �Stop,berhenti dulu aku ajarin yang enak mau nggak?�tanyaku �Apaan sih�kata Intan �Iya,apaan�sahut Anggi Wah kebetulan nih pikirku. �Kita main ibu dan bapak�kataku �Gimana?�tanya keduanya hampir bersamaan �Gini,biar aku buka pakaian renang kalian lalu kita main�kataku sambil berusaha melepas pakaian Intan �Iya deh�jawab Intan. Lalu aku melepas tengtop Intan hingga Intan telanjang dan pakaian atas Anggi lalu cawet nilon Anggi dan membuang semua itu sembarangan. �Nah sekarang Anggi dulu� kataku mendekati Anggi dan menidurkan Anggi dikursi pantai panjang yang didekat kolam renang. �Kamu tiduran ya terus nikmati aja�kataku sambil membelai belai pentil Anggi yang putih mulus dan putingnya yang berwarna merah muda itu.Lalu aku mencium bibir Anggi dan melumat bibirnya.Mulanya dia hanya diam tapi lama lama dia membalasnya dan lidahku masuk kedalam mulutnya.Emhhhh�manisnya ludah milik Anggi.Kami berciuman lama sambil tanganku meremasi pentil serta memelintir putingnya.Intan hanya memperhatikan kami. �Eh seperti yang difilm yang ditonton papa sama mama�katanya.Aku terus saja melanjutkan permainanku dengan Anggi hingga ciumanku turun kedaerah pentil.Disana mulut dan lidahku mengulum dan menciumi pentil Anggi yang kiri dan tanganku yang kiri meremas pentilnya yang kanan. �Shhh akhhh�kak Intan enak kak,Anggi sukaaa�katanya diiringi rintihan keenakan.Lalu ciumanku turun keperut dan kebawah terus hingga sampai didaerah tempiknya yang belum ada bulunya sama sekali.Tempiknya putih banget dengan bukit melintang indah kebawah serta ada sesuatu seperti mengintip sebesar kacang.Aku hirup aroma tempiknya dalam dalam�mhhh haruuuum banget melebihi semua madu.Lalu aku menciumnya dan memainkan bibirku di tempiknya yang basah terus lama lama lidahku sudah menyusuri tempiknya. �Kakhhh Intan gawukku diapain kok enak sihhh�teriaknya Intan hanya menonton karena juga tidak mengerti.Lalu aku memasukkan lidahku kedalam tempik Anggi hingga masuk dan menjilati tempiknya yang sudah basah cairan kenikmatannya sampai kedaerah itilnya. �sluuup sruupp sllluuuupp amhhh�suara lidahku memainkan tempik Anggi �Shhhh miaahhhhh kak Itaaan Nikmat sekali kak,Anggi nggak tahan�katanya sambil tangannya meremas rambutku hingga acak acakan.Kedua tanganku bermain di pentilnya yang terbebas.Hingga tiba tiba Anggi berteriak. �Kak,Anggi mau pipis kak�akhhhhh�serrr�sserrrr�sseerrr..seeerrrr�4 kali tempiknya mengeluarkan cairan pejuh.Aku langsung menghabiskan cairan itu hingga habis karena rasanya sangat enak,gurih,manis.Dia kelihatan lemes banget dengan nafas memburu. �Kok enak banget,Anggi keenakan sekali�katanya �Sekarang aku ajarin ngulumin tititku ya�kataku �Sekarang kamu gantian diatas terus masukin tititku kemulutmu dan emutin Nggi�kataku sambil membaringkan tubuhku dikursi.Lalu Anggi memegang kontolku dan meremasnya lalu menjilat helmku yang berwarna merah tegang sekali. �Ayo Nggi emut seperti kamu ngemut es�kataku sambil mendorong kepala Anggi kebawah kontolku.Lalu Anggi mengulum kontolku tapi hanya 1/4nya saja karena kontolku besar(panjang 17 cm dan berdiameter 5 cm).Dia mengulumnya dengan kasar maklum baru pertama sampai kena giginya.Rasanya sakit sakit,geli,nikmat,enak bercampur jadi satu.Kontolku kena gigi tapi justru itu yang menambah nikmat bagiku. �Sluurrrppp�slurrpp�.nyot..nyoot�bunyi kulumannya pada kontolku. �Shhh�yahhhh terus Anggi,kamu pintar banget�kataku �Intan kamu sini dong deket aku biar kamu enak juga�kataku agar Intan mendekat. Setelah Intan mendekat tanganku langsung menyambar pentilnya dan meremas remasnya �Ehhh�shhhhh tetekku sakit tau�katanya tapi tak berusaha menyingkirkan tanganku.Jadinya kontolku dikulumin cewek kecil dan tanganku meremasi pentil cewek cantik juga,sungguh pas dan nikmat sekali.Hingga aku akan segera akan keluar. �Ssshhhhh mhhhh�croottt�crrooottt�crrooott�3 kali panjang panjang aku menembakkan air pejuhku kemulut Anggi �kamu pipis kok nggak bilang sih� kata Anggi sambil mengelap pejuh yang meleleh keluar sampai dipipinya �Tapi kok enak yah rasanya�katanya lagi �Nggi kamu tiduran lagi dong biar aku ajaring yang lain�kataku.Lalu aku bangun digantikan Anggi yang ganti tiduran dikursi. �Apa lagi sih�tanya Intan �Enak deh liat aja�kataku brsiap siap naik kekursi lagi lalu aku menyuruh Intan kockin kontolku yang mengecil. �Tan kocokin dong biar ngaceng lagi nih�kataku sambil memegangi kontolku. Lalu Intan memgang dan mengocoknya hingga ngaceng kembali.Setelah ngaceng aku siap siap akan memasukkan kontolku kedalam tempiknya Anggi.Aku menggenggam kontolku dan mengarahkan kelobang tempik Anggi. �Nggi tahan dikit yah aku mau masukin kontolku�kataku sambil memegangi kontolku �Masukin aja aku pingin rasain kaya papa sama mama main ginian�katanya sambil jarinya menyentuh helmku �Intan kamu bantuin aku dong,tarik gawuknya Anggi biar agak lebar Ta�kataku lalu Intan menarik tempik Anggi kekiri dan kekanan dan aku lalu mendorong kontolku. Susah banget masuknya dan baru 3 kali sodokan helmku mulai masuk�bleeeshhh� �Kaaakhhh Intan sakit kak�teriak Anggi �Tahan sedikit Nggi�kataku lalu mendorong kontolku hingga � masuk kontolku sudah menabrak selaput dara Anggi.Aku berhenti sebentar lalu menaik turunkan kontolku hingga Anggi kembali mendesah desah tanda dia merasa keenakan lagi.Lalu tiba tiba�bleessss�prett kontolku merobek selaput daranya dan masuk semua hingga amblas ketempik Anggi yang sempit.Kontolku seperti diremes remes dengan karet hingga sakit sakit tapi enak. �Aaaaakkkhhhhh kak Intan,gawukku perih�teriak Anggi dan aku terus diatas Anggi.Saat Anggi sudah sedikit tenang aku kembali menggerakkan pantatku naik turun.Pertama Anggi meringis ringis. �Shhhh sakiiit�udah dong gawukku sakit�rintihnya tapi aku tak peduli karena aku sudah gatel banget.Tapi lama lama rintihanya berubah jadi erangan dan desahan kenikmatan. �Shhh�ahhhhh aakkhhhh�.yaahhhh kak Intan kok enak ya kak sakit tapi nikmat�katanya tak beraturan �Anggi gawukmu nikmat banget Nggi aku suka banget deh shhhh�aakhhhh�kataku keenakan juga sambil bergerak turun naik diatas tubuh mulus Anggi Gerakanku makin lama makin cepat hingga akhirnya. �Kak Intan Anggi pipis lagi kakhh�shhh..aaahhhhh�.ssshhhhhh..aahhh�teriakanya membuatku makincepat menggenjot tempiknya hingga akhirnya �Akhhh sseeerrr�sseerrr.sseeerr�seerr�kali ini lebih banyak pejuh yang keluar dari tempik Anggi lalu aku mencabut kontolku yang belum keluar dan belum puas.Lalu aku menjilati tempik Anggi.Kulihat ditempiknya ada cairan putih dan ada darah yang meleleh tanda dia sudah tidak perawan lagi.Lalu aku menjilatinya sampai semua darah dan pejuh habis bersih dan aku telan semua.Rasanya enak,asin,gurih,amis darah bercampur jadi satu. Kontolku masih kokoh tegang dan basah mengkilap oleh pejuh dan sedikit darah Anggi. �Nggi sekarang kamu istirahat aja deh lihat giliran kak Intan�kataku �Iya deh,Anggi juga lemes kok dan gawukku sedikit sakit�katanya sambil membelai tempiknya yang bentuknya berubah menjadi tebal dan tembem menggelembung karena sudah kumasukin kontol.Bentuknya jadi sedikit keluar bibir tempiknya. �Sakit ya,tapi nikmat kan?�tanyaku �Iya sakit tapi enak kaya gimana gitu�katanya sambil tersenyum. Aku lalu mendekati Intan yang merabai tempiknya karena kegatalan sepertinya �Tan sekarang giliran kamu�kataku sambil menelakupkan telapakku kepentil Intan lalu meremasnya. �Sakit nggak sih nanti�tanyanya takut sakit �Nggak deh,malah enaaak sekali�kataku �Tuh tititku sudah tegang ingin dimasukin kegawukmu itu�kataku sambil meremas tempiknya.Intan lalu menutupkan pahanya agar aku tidak menggodanya lagi. �Iya tapi pelan pelan aja yah�katanya �Iya deh nikmatin aja kamu bakalan ketagihan�kataku lalu aku mendekati Intan dan menyodorkan kontolku kearahnya. �Tan remasin,kocok dan kulumin dong tititku biar lebih ngaceng� kataku sambil memegang tangan Intan. Intan lalu memegang dan meremas kontolku yang sudah ngaceng basah. �Teruushhh�Ta kocokin Taaa,enaaakhhhh�kataku menikmati remasan dan kocokan Intan pada kontolku. �Taaa emutin dong kaya Anggi tadi�kataku sambil menarik kepala Inta kearah kontolku. Intan lalu membuka mulutnya dan menjilati lubang kontolku yang kemerah merahan.Rasanya seperti digesekin kekondom(kalau aku ml sama Siska npacarku yang ada dalam cerita Senandung Masa puber aku kadang memakai kondom biar aman,kadang Siska ngocokin kontolku yang mesih berkondom�.Enaaaknya si Siska).Sekarang Intan ngulumin kontolku. Hanya 1/4nya kontolku yang masuk karena panjangnya kontolku.Mhhhh�.slluuuuupp�cleeep suaranya bikin aku melayang. �Taaaa nikamatnya,kamu lebih enakan dari Anggi emutan kamu�kataku melirik Anggi yang sedang merabai tempiknya yang membengkak merah dia meringis aja.Tiba tiba ada yang akan keluar dari kontolku. �Shhh akhh teruushhh ttaaaa�kataku lalu�croot croot crot crot pejuhku menyembur dalam mulut Intan. Intan menelan semua pejuhku karena dia tau kalau rasanya enak.Aku lalu bangun dari kursi dan menidurkan kekursi. �Tan sekarang kamu gantian yang rasain�kataku lalu aku mencium tempiknya lalu aku jilat bibir tempiknya(tempiknya putih bersih belum ada bulunya sama sekali dan berbau sedap cairan kewanitaanya).Aku menjilat,mencium,melumat sampai cairan Intan jadi habis semua. �Akhhh shhhh�mhhhhh�shhhh�akhhh�rintihan Intan semakin indah.Setelah beberapa saat akhirnya dia sampai juga. �Aaahhhh�aku pipis enakhhhh sekali�ssuuuurrr�suurrr..ssuuurrrrr�Intan menyemburkan pejuh panjang panjang sampai mengenai mukaku lalu aku menjilatinya sampai bersih serta meratakan pejuhnya dimukaku. �Ukhhh enak sekali aku sampai lemas�katanya sambil berbaring terlentang. �Gimana enakan?,sekarang kamu rasain kaya Anggi tadi yah�kataku sambil memegangi pentilnya yang mengeras dan mencuat tegang puting coklatnya.Lalu aku menaikin tubuh Intan yang telentang siap. �Ta tahan dikit yah kalau perih�kataku sambil memegangi kontolku kerah tempiknya Intan �Nggi bukain dong gawuk kak Intan�kataku pada Anggi lalu Anggi menarik tempik Intan kekanan dan kekiri membukanya.Terlihat bagian dalam tempik perawan Intan basah,merah muda dan berkedut kedut.Aku mendorong kontolku berkali kali tapi susah dan baru yang kelima kalinya aku berhasil,sepertinya tempi Intan malah lebih sempit dari punya Anggi.Sleeep�.kepala kontolku baru masuk tapi Intan sudah teriak kesakitan. �Ukhhh�periiihh�sakiiit banget�katanya sambil tangannya mencengkeram pinggangku agar tidak masuk lagi.Setelah Intan agak tenang aku kembali menekan kontolku masuk lagi�sleeep..�Akhhhh�teriak Intan.Setelah � lebih kontolku seperti menyentuh selaput tipisnya. �Kamu muncul lagi yah,ntar kamu aku robek�kataku dalam hati alu aku dengan tiba tiba menekan kontolku sekuat tenaga. �Slup�Brett akhhhh sakiiit�teriak Intan mencengkeram pinggangku kuat kuat.Aku diam aja sambil menikmati jepitan dinding tempik Intan yang kuat seperti mau menghancurkan kontol tegangku.Setelah nafas Intan agak teratur aku kembali menaik turunkan kontolku mengobok obok tempik perawan Intan. �Akhhh shhhh sakiiit pelan pelan dong periiih nih�teriaknya tapi aku tidak peduli. �Aku kenthu kamu Ta biar tempikmu perih�kataku dalam hati kegemesan �Sleep�sleep�cleep�cleeep�genjotanku naik turun makin lama makin cepat �Akhhh�shhhh�.akhhhh sakiit�teriak Intan kesakitan tapi pinggangnya malah bergerak kekanan dan kekiri.Lama lama teriakannya berubah menjadi desahan nikmat. �Shhh..akhhhh�skhhh�akhhh enak bangethh siih kalau gini terus Intan mau dong�katanya sambil menekan pinggulku. �Akhhh taaa gawukmu sempit nikmat banget taaa�kataku sambil menggenjot tempiknya yang lama lama menjadi lancar nggak seret lagi dan basah oleh cairan kenikmatannya. �Sleep�sleepp..cluup�cluup�irama kanthuku membuat Anggi masturbasi dengan memasukkan dua jari mungilnya ketempiknya yang sekarang telah membesar itu �Kak Intan,Anggi gateeel�kata Anggi sambil mengeluar masukkan jarinya secara cepat Aku agak bosan dengan posisi itu lalu mencabut kontolku dari tempik Intan. �Kenapa dicabut sih gatel nih�kata Intan sambil menarik kontolku agar masuk kembali �Bentar Ta kita ganti posisi�kataku lalu menunggingkan Intan �Nah kamu terus gini aja ntar kamu lebih enak lagi�kataku sambil mendorong kontolku ketempiknya.Ternyata kontolku masih saja kesulitan masuknya karena tempiknya memeng sempit sekali.Bleeeeeesss�.kontolku masuk pelan pelan. �Akhhhh teruushh masukin dong lagi�katanya.Aku lalu memaju mundurkan pantatku secepatnya biar Intan kesakitan(tujuanku agar aku mendapat variasi �Sleep�sleep.sleep�sleep�cplok�cplok�cplok�suara selakanganku menabrak pantat bulat Intan �Akhhh�shhhh�.akhhh terus dong enak nih�katanya.Lama lama aku sudah merasakan akan keluar sesuatu dari kontolku dan Intan sepertinya juga begitu �Akhh aku mau pipis lagi�katanya �Aku juga Ta kita sama sama yuuuk�ajakku lalu aku memeluknya erat erat karena biar semua pejuhku masuk dalam rahim Intan �Crott�croot�croot..suurrr�surr..suurr�kami sama sama memuntahkan pejuh kami.Aku memeluk Intan erat sekali hingga kontolku mengecil dalam tempiknya.Rasanya enaak sekali melebihi Siska dulu pertama aku kenthu. Kami sama sama lelah,karena udah panas udaranya kami segera masuk kerumah Intan. Intan dan Anggi hanya membawa pakaian renangnya dan tidak memakainya karena malas.Kami masuk kedalam dan saat sampai di dapur kami kepergok mbak Asih yang lagi duduk membaca majalah Aneka. �Ehh kalian sedang renang ya�katanya sambil memandangi kontolku yang bebas terlihat olehnya �Iya mbak(aku kalau memanggilnya mbak)kami berenang dikolam tadi�kataku �kok pakaian renang dik Intan dan dik Anggi dilepas�katanya lagi �Kami tadi main ayah dan ibu�kata Intan menyahut �Ooooo kalian main ginian yah�kata Bi Asih sambil mengeluar masukkan jarinya kedalam ibu jari dan telunjuknya yang dikaitkannya. �Iya mbak Ehhh�kami�kataku gugup �Kenapa sih mbak nggak diajak,mbak kan mau ikutan�kata mbak Asih sambil mendekatiku dan merabai kontolku otomatis kontolku ngaceng lagi �Tadi enak nggak dik?�tanya mbak Asih �Enaak banget mbak�kata Anggi �Tapi kok periih banget ya mbak?�kata Intan �Tapi enak kan�kataku membiarkan tangan mbak Asih bermain dikontolku yang sudah ngaceng lagi �mbak kalau mau ikutan dikamar Intan aja tapi berdua aja yah kami kecapaian�kata Intan lalu kami masuk kekamar Intan.Saat itu mbak Asih memakai rok kolor hitam atas lutut atasannya memakai kaos oblong ketat tipis menampakkan Bhnya yang berukuran 36C berwarna pink(aku tau ukurannya setelah aku kenthu dengan bi Asih,bahkan aku menyimpannya untuk kenang kenangan bila aku ingin kenthu dengannya atau bila aku ngocok sendiri). Setelah dikamar Intan aku mengunci kamar hingga didalam kamar hanya ada aku dan mbak Asih sedang Intan dan Anggi nggak ikut karena kecapaian katanya. �uh besarnya kontolmu Ndra mbak jadi ingin rasain�katanya sambil menggerakkannya naik turun. �Shhhh mbak enak mbak kocokanmu�kataku sambil merabai pentil mbak Asih yang masih memakai pakaiannya.Lalu aku mengangkat kaos mbak Asih keatas dan melapasnya hingga terlihatlah Bh pink mbak Asih yang kelihatan sexy. �Mbak Bhnya lepasin ya,Andra pingin lihat susumu ini�kataku sambil meraba susunya yang kencang montok dan menantang.Aku memang sudah lama ingin mengenthu mbak Asih tetapi aku nggak enak mengajak dan baru sekarang �Iya Ndra susuku juga ingin kamu lumatin�katanya tetap remesin kontolku.Bhnya aku epas dan aku taruh diranjangnya Intan.Sekarang Bhnya lepas dan mbak Asih telanjang dada. Pentilnya besar,montok dan putingnya merah mencuat keatas membuat mataku melotot tak puas memandang �Mbak indah banget mbak�kataku lalu meremasnya kegemasan �Mhhh akhhh terus remes Ndra susu mbak As gatel�katanya lalu aku mencium bibirnya dan mbak Asih membalas ciumanku serta melumat bibirku lalu kami bermain lidah(ludah mbak Asih rasanya manis banget nggak kalah sama Intan dan Anggi)sambil tetep remasin susunya.Setelah puas ciuman aku menurunkan ciumanku kelehernya dan menggigiti lehernya sampai memerah lalu turun sampai kepentilnya.Disana aku melumat susunya lalu lama lama aku melumat putingnya yang mencuat indah. �Mhhh yahh Ndra teruus sayang�katanya sambil meremas belakang kepalaku Aku melumat pentil mbak Asih kiri kanan gantian,bila aku lumat kiri tanganku meremas yang kanan tapi bila aku lumat yang kanan tanganku meremas yang kiri. Aku lalu menarik rok kolor mbak Asih kebawah sampai lepas hingga tempik mbak Asih telihat bebas.Ternyata mbak Asih nggak pakai celana dalam pantesan tadi duduknya didapur kakinya ditutupin handuk.Tempik mbak Asih menggunduk tebal dengan jembut lebat menghiasi bukit tempiknya. Aku langsung memandang keindahan hutan mbak Asih tak berkedip.Mbak Asih yang masih muda(boleh dibilang remaja)mirip cewek cina karena putihnya mbak Asih,susunya putih montok dengan puting merah mencuat sedangkan tempiknya tebal membukit dengan bulu jembut yang rimbun idah pasti semua cowok akan langsung onani bila melihatnya telanjang. �Udah Ndra kok dipandang terus�katanya mengaitkan pahanya dan duduk ditepi ranjang.Aku hanya senyum saja lalu mendorong mbak Asih telentang lalu menjilat tempiknya yang sudah sangat basah dan berbau enak.Jilatanku naik turun terus melumat lumat hingga mbak Asih kelojotan keenakan. �Akhh Ndraa kamu nakal sayang,teruuusshhhh�katanya sambil meremas remas bantal.Aku terus saja mengerjai tempiknya sampai mbak Asih mengangkat kepalaku dan berkata �Udah Ndra masukin aja kontol kamu itu aku sudah ingin rasain�katanya sambil mengangkangkan paha mulusnya lalu aku menaiki tubtuhnya dan mengarahkan kontolku ketempik rimbunnya.Ternyata susah banget hingga 4 kali usaha bru masuk.Slleep kepala kontolku baru masuk. �Akshhh pelan pelan yah Ndra�kata mbak Asih lalu aku menekan lagi pantatku masuk hingga 3/4nya kontolku seperti menekan sesuatu selaput. Ternyata mbak Asih masih perawan. �Mbak asih perawan ya?�tanyaku �Iya,mbak baru main ini�katanya �Nggak apa apa mbak aku mengambil perawan mbak?�kataku �Nggak apa apa kok,malah mbak senang bisa ngasih kepada orang yang mbak cintai�ternyata mbak asih suka padaku.Lalu aku menekan lagi pantatku hingga Bless�.preet sleput itu telah sobek. �Akh sakit Ndra terusin aja kok mbak nggak apa apa�katanya.Aku lalu mendiamkan kontolku didalam tempik mbak asih menikmati pijatan sexynya �Shhh mbak makasih yah enak sekali,aku kapan kapan mau lagi�kataku meremasi pentilnya yang sudah keras. �Iya sayang�katanya membelai bibirku sambil menitikka air matanya.Ternyata mbak Asih benar benar mencintaiku.Lalu aku menaik turunkan pantatku pelan pelan makin lama makin cepat.Dari seret sampai lancr keluar masuknya �Sleep..sleepp..cleep..cleep�.akhhhh�.shhh�akhhh..mbaakkk�.enak�Andraa aku sayang kamu�teriakan kami sungguh indah.Kami tetap pada posisi itu hingga akhirnya mbak Asih mendorong tubuhku hingga kontolku terlepas dari tempiknya dan menyuruhku dibawah. �Sayang kamu dibawah yah biar aku rasain diatas�katanya lalu dia menduduki kontolku yang basah mengkilat.Sleeeeepp kontolku masuk pelahan lahan. �Aahh��desahannya memulai gerakannya naik turun.Slee�cleep�cleep..seeepp irama kenthu kami yang indah. Kami tak hentinya bergerak,mbak Asih naik turun sedang aku meremas remas pentilnya yang bergerak naik turun seirama gerakan pinggul sexynya hingga akhirnya� �Mbak aku sampai��kataku �Ahhh aku juga sayang kita keluarin sama sama yuuukkkhhhh�teriaknya Sleep..cleep..cleepp�akhhh�shhh..akhhh ..shhh lalu serrrr�serrrr�serrrrr kami sampai hampir bersama sama tapi aku hanya mengeluarkan pejuh sedikit banget karena sudah terkuras tadi.Mbak Asih lalu rebah diatas tubuhku kelelahan dan kontolku masih didalam tempiknya sampai mengecil lagi. �ndra aku cinta kamu Ndra�katanya sambil menitikan air matanya diatas tubuhku �Tapi aku sudah menjadi pacar Siska�kataku sambil menghapus air matanya �Aku nggak peduli asal kamu juga sayang aku,kamu mau kan menyayangiku?�katanya lagi �Iya sayang aku akan mencintai kamu walau kamu yang kedua�kataku memeluknya keharuan �Ohh�Ndra aku sayang kamu dan aku nggak peduli walau kamu milik Siska yang penting aku memiliki kamu�kata cintanya tulus padaku �Aku cinta kamu yang�sambil mencium bibirnya dari bawah tubuhnya aku berkata.Aku sungguh terharu sampai aku ikutan menangis (aku orangnya romantis dan sangat sentimen). Aku menurunkan tubuh indah sayangku yang kedua setelah aku kehabisan nafas keberatan.Lalu kami tertidur kelelahan dan aku memeluknya penuh kasih sayang karena aku diam diam juga menyayanginya. Sejak saat itu aku resmi jadi pacarnya walau dia rela menjadi yang kedua setelah Siskaku.Aku juga sering menemui Intan dan Anggi sampai saat ini bila aku lagi gatel ingin kenthu atau ingin rasain air pejuhnya.Saat dia pulang sekolah sekolah dengan jalan aku membolos sekolah karena aku ingin kenthu dengannya dialam terbuka (aku suka berexperimen dengan sex). Cerianya begini: Saat aku tau kalau jam 11 siang Intan pulang dari SDnya aku langsung menunggunya digardu ronda dekat sekolahnya karena aku tau jalan itu satu satunya jalan bila dia pulang sekolah.saat dia sampai digardu aku langsung memanggilnya dan kebetulan dia jalan sendirian tidak sama temennya. Dia kupanggil langsung saja kearahku karena tau aku yang memanggil. �Ada apa sih,kamu bolos yah�katanya sambil senyum �Iya nih kangen sama kamu yang�kataku �Yuk jalan kesana yuk�kataku mengajaknya kearah persawahan (sekolahan Intan dekat persawahan yang luas) �Yuk deh�katanya menggandeng tanganku mesra. �Intan aku kangen kamu sama permainan kita�kataku memeluk pundaknya dari samping setelah mendapatkan tempat yang agak terlindung dan sepi. �Yang bener aja deh�katanya memegang tanganku yang dipundaknya. �Iya,sampe sampe aku bolos begini�kataku lalu tanganku yang satunya meraba kakinya hingga terus sampai kepahanya. �Kamu nakal deh�katanya membiarka aku menyingkap rok merah seragamnya �Kita main yuk�kataku lalu aku menciumnya dan dia membalas lumatanku pada mulutnya karena dia sudah terbiasa aku lumatin.Tanganku meremas pentilnya setelah aku menidurkannya dirumput yang tempatnya terhalang semak rimbun.Kami ciuman lama banget sampai mulutku basah oleh ludahnya. lalu aku membuka kancing seragam putih SDnya dan melepasnya serta meletakakn disamping kami.Intan memakai kaos dalam putih dan aku segera mengangkatnya keatas hingga terlepas dan dia hanya tersenyum kepadaku tanganya mengelusi kontol tegangku yang sudah tadi dia keluarin dari celana panjangku(aku sengaja nggak pakai celana dalam karena aku sudah ada rencana) hingga tampak miniset putih yang masih menghalangi pentilnya. �Kok kamu pakai miniset sih kmau nggak sexy dong�kataku menggodanya �Aku malu kok teteku udah gede nih�katanya menutupi pentilnya yang terhalang miniset kecil putih.Aku lalu menaikkan minisetnya danmelepasnya dari tubuh kecilnya. �Ta kamu pakai lagi dong kaos dalemu sama seragammu�kataku menyodorkan baju seragamnya �Kok di pakai lagi?�katanya �Pokoknya kamu pakai aja deh�kataku lalu dia memakai semuanya tanpa miniset putihnya.Setelah selesai aku melepaskan celana panjangku,mendekatinya dan memangkunya sehingga dia diatasku.Aku menyingkapkan rok merahnya keatas dan dia hanya diam saja meremasin kontolku yang mengacung keatas.Kusingkap roknya hingga terbuka sampai pangkal pahanya,terlihatlah celana dalam hijau ada bunga bunga kecil miliknya �Ta aku lepasin yah�kataku sambil menarik cawet hijaunya kebawah dan Intan hanya mengangguk.Setelah lepas tangan kananku meraba raba tempiknya yang masih gundul itu naik turun sedang tangan kiriku masuk kedalam kaos dan seragam putihnya meremas susunya yang berukuran 32B itu �Ahhhh kamu�desahnya mulai keenakan sambil mengocok kontol itemku.Kami bermain pegang pegangan hingga kami puas lalu aku menyuruhnya tidur dan aku menindihnya terbalik(posisi 69)lalu aku menjilati,mengulum serta mengerjai tempiknya hingga basah cairan kenikmatan dan dia mengemut kontolku hingga kami sama sama mengeluarkan pejuh.Setelah keluar aku menyruhnya bangun dan berdiri menungging. Aku lalu menyingkap rok merahnya keatas sampai pantat dan tempiknya mengintip serta mendekatkan konotlku siap aku masukkan.Sleeeeeeppp kontolku masuk dengan mudah karena Intan sudah sering aku kenthuin. �Ta enak nggak?�kataku mendiamkan kontolku didalam tempiknya dan memegangi pinggang rampingnya �Ahhhh Ndra kontolmu nakal sekali�katanya sambil nungging dan pegangan pada pohon kelapa.Aku lalu mulai memaju mundurkan pantatku agar kontolku keluar masuk tempik Intan.Gerakanku mulanya lambat tapi lama lama mulai cepat dan lebih cepat. �Shhhh�.akkhhhh�mhhhh akhhhh�akhhhh nikmaaat�teriak Intan �Taa enak,nikmat taaa�teriakku tertahan.Clep..clep�sleep�sleep irama monoton kenthu kami tapi indah. Aku mulai bosan dengan posisi nungging lalu aku mencabut kontolku dari tempiknya. �Ta sini aku gendong�kataku lalu menaikkan tubuh Intan dan mengarahkan kontolku lagi kedalam tempiknya.Sleeepp kontolku masuk dengan mantap Aku berdiri telanjang dan Intan diatasku lalu bergoyang naik turun semakin lama semakin cepat sampai rok dan seragamnya kusut.Aku memeluknya dan bibirku berciuman dengannya saling melumat dan menjilat. Hingga akhirnya aku akan sampai �Taa aku pipis Taaa�teriaku lagi �Ndraa aku juga Akhhhh��desahnya tertahan lalu Serrr�serrrr.serrr�.croottt�croottt�crroooottt kami sampai hampir bersamaan dan saling memeluk erat erat.Aku menyandarkan tubuhnya dipohon kelapa sampai beberapa saat kontolku juga didalam tempiknya.Air pejuh kami kebanyakan sampai meleleh keluar membasahi rok seragam Intan.Sungguh nikmat kenthu sambil sembunyi ditempat terbuka seperti ini. Aku menurunkan Intan saat nafas kami kembali teratur dan mencabut kontolku dari tempiknya �Uhhhh..ta nikmat ya tadi�kataku membelai rambut Intan yang kusut serta merapikannya �Iya lain kali lagi yah Ndra�katanya.Aku memekai lagi celanaku dan mengambil miniset dan celana dalam hijau Intan serta menyimpannya �Ta buat aku yah cawet dan Bh minimu�kataku sambil mengantongi pakaian dalamnya �Buat apa?�tanyanya lalu tertawa kegelian �Buat kenang kenangan aja�kataku �Terus aku gimana nih�katanya sambil menyingkap roknya keatas memperlihatkan tempiknya yang tidak pakai celana dalam �Nggak usah pakai dulu hingga kamu sampai rumah baru kamu ganti terus tetekmu itu kan agak tertutup,nggak kelihatan kok tetekmu�kataku membela belai pentilnya yang tertutup seregam dan kaos dalam.Kami lalu pulang dan berpisah dijalan karena aku pulang jam 2 siang dan saat itu baru jam setengah satu jadi aku tadi kenthu sama Intan selama 1 � jam lebih.Aku dijalan sepi menciumi celana dalam Intan dan minisetnya yang berbau tubuh serta keringatnya.Baunya kecut kecut segar tapi aku bener benar suka malah bila aku sedang terangsang dan tidak ada penyaluran aku lalu menjilat serta menyedot aroma wangi pakaian itu sambil mengocok kontolku sampai puas. Aku juga pernah menemui Anggi secara sembunyi ketika Anggi membeli sesuatu diwarung sebelah rumahku.Saat itu Anggi membeli rokok yang disuruh oleh papanya dan aku menemuinya serta menyuruhnya kembali menemuiku setelah dia mengembalikan rokok papanya.Setelah dia mengembalikan rokok papanya dia menemuiku lagi dan langsung aku ajak dia pergi kesawah deket rumahku yang tempatnya sepi. �Kenapa ajak aku kemari sih?�tanyanya sambil tangannya menggandeng tananku �Nggak kok,aku pingin main aja dengan kamu�kataku lalau aku memeluk pundaknya dan telapak tanganku langsung meraba susu kanannya karena posisiku ada dikirinya.Dia malah semakin memelukku erat karena dia memang suka aku remesin susu mininya �Eh,remasin dong teteku...kan lama nggak kamu remesin�katanya centil lalu aku memasukkan tanganku kekaos dan kaos dalamnya yang longgar lalu mencari susu mini yang aku sukai.Aku meremas remas dengan lembut karena Anggi suka diremesin lembut. Terasa sekali susu Anggi belum keras dan lembut karena belum ada rangsangan. �Enak terusin yah�katanya lalu kami berjalan beriringan kegubuk yang agak tersembunyi.Setelah sampai aku segera mendudukan Anggi di tikar lusuh yang ada digubuk itu lalu aku membuka kancing kaosnya karena kaos Anggi memakai kancing didadanya. �Nggi main lagi yuk,tititku gatel nih Nggi�kataku sambil menidurkannya dan menindih tubuh kecil Anggi setelah membuka kancing kaos Anggi �Iya yuk aku juga sudah lama nggak main lagi sama kamu�katanya lalu tangan Anggi meraba kontolku yang mulai ngaceng sejak sampai digubuk tadi.Lalu aku melumat bibir Anggi dan dia membalasnya tak kalah ganas karena sudah sering aku lumatun bibir merahnya.Tanganku langsung meremas susunya yang mulai mengeras dan pentilnya mencuat tegang.Saat kami sedang ciuman aku menaikkan kaosnya sampai terlepas lalu kaos dalamnya sekalian hingga Anggi telanjang dada terlihat susunya mengeras dengan pentil coklat muda tegak mengacung menantang.Aku lalu melepaskan lumatanku pada bibir mungil Anggi dan mulai melumati pentil kirinya yang tegang mengacung sambil tangan kiriku meremas susu kanannya yang bebas. �Aaahhh....ssshhhhh enaaak teruuss ya...�katanya sambil merabai kontolku yang ngaceng.Setelah agak lama aku mengerjai susunya secara bergantian lalu tanganku mulai melorotkan celana selutut ketat hitam Anggi hingga Anggi telanjang bulat karena Anggi tidak memakai celana dalam(biasanya Anggi memakai celana ketat itu sebagai ganti celana dalam).Tanganku segera menggosok gosok tempiknya yang mulai membasah pertanda Anggi sudah terangsang.Tempik Anggi sekarang kelihatan tebal dan dikanan kiri bibir tempiknya ada daging yang menyelaput tapi daging itu justru membuat enak jika disetubuhi.2 Jari tanganku aku masukkan kedalam lubang tempiknya lalu mengeluar masukkannya secara cepat seperti menyetubuhinya. �Aahhh...shhhhh sakiiit jangan pakai jari dong�katanya sambil tangannya memegangi lenganku kesakitan.Aku tak peduli hingga tempiknya berdarah menganai jariku.Setelah sadar tempik Anggi berdarah aku menghentikan jariku dan melihat Anggi menangis sambil tiduran. Aku segera saja naik ketubuh Anggi dan mengarahkan kontolku yang tegak mengacung acung kearah tempiknya yang merah merekah segar sekali kelihatannya.Sleeeepp..kontolku masuk perlahan lahan �Ukhhh pelan pelan aja yah�katanya lalu aku mulai menggerakan pantatku maju mundur memompa tempiknya. Terasa nikmat,licin,geli bercampur jadi satu menjadi sensasi setubuh anak anak yang membuat kami ketagihan.Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama sama melepaskan pejuh kami. �Akhhh...Anggi samapi nih..serr...serr..serrrr...seerr�teiakan Anggi nyaring dan kurasa ada aliran hangat melumuri kontolku.Lalu aku merasa kontolku semakin mengeras dan ingin memuncratkan air surga. �Nggiiiii....emut kontolku aku mau pipis sayang�kataku lalu mencabut kontolku dari tempiknya.Crroootttt....crrootttt....croottt lalu Anggi melumat � kontolku hingga pejuhku habis keluar. �mhhh enak sekali pejuhmu�katanya sambil mengocok ngocok kontolku mencari sisa air pejuhku. �Udah dong Nggi�kataku lalu memasukkan lagi kontolku ketempiknya dan memangku Anggi ditikar gubuk duduk berpangkuan karena kontolku belum juga melemas. �Belum lemes ya�katanya lalu mengambil kaosnya menutupi daerah kemaluan kami yang masih menyatu. �Kenapa ditutup,kan nggak ada orang�kataku memakaikan kaosku ketubuhnya. �Biar nggak saru�katanya kegenitan.Kami tetap menyatukan kelamin kami hingga Anggi tertidur dalam pelukanku tapi kontolku nggak mau lemes juga akhirnya aku diam menikmati remesan remesan lembut tempik Anggi pada kontolku. Kami juga sering main bersama,berdua atau bertiga.Kadang dirumah Intan kadang dirumahku kadang dirumah Siska pacar kesatuku. Aku dan Siska juga sering main seks diluar ruangan karena kami juga menyukai petualangan yang seru.Kami main di sekolahan juga pernah. Dulu Siska dan aku bolos jam pelajaran berdua lalu kami sembunyi dikamar mandi yang letaknya memang agak tersembunyi dan tertutup.Pada saat dikamar mandi aku memeluk Siska dari belakang dan memasukkan tanganku kebaju seragamnya lalu meremas remas susunya dari luar kaos dalamnya dan diluar Bh mini Siska setelah puas aku membuka 3 kancing atas baju seragam Siska lalu aku mengangkat kaos Siska dan membuka kancing Bhnya lalu talinya aku tarik kekanan dan kekiri melewati bahu dan tangannya kemudian melepasnya singkatnya susu Siska tertutup tetapi hanya seragam dan kaos dalamnya.Lalu tanyanku menurunkan semua celanaku hingga celana dalamku sekalian menampakkan kontolku yang tegang mengangguk angguk minta dimasukin.Kemudian aku menurunkan celana dalam merah Siska tanpa melepas rok Siska. Kemudian aku mendekati Siska dari belakang dan mengarahkan kontolku dari belakang(kami sudah sama sama nafsu).Sleeeepp...blesss aku langsung memasukkan kontolku terburu buru karena sempit waktu membuat kesakitan Siska. �Aduuh pelan pelan dong Ndra,Siska sakit nih�katanya agak merintih �Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih�kataku lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah dibalik seragam dan kaos dalamnya. Lalu aku mulai memaju mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya. �Shhhh...ahhhh...shhhh...Ndraaaa aku sayang kamuuuu�kata Siska setengah merintih kenikmatan �Siskaaaa aku juga,tempikmu sempiitt...nikmat Kaaaa�teriaku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami.Sleeep...bleess...cplok..cplok...cplok irama persetubuhan kami sungguh indah hingga aku ketagihan.Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kami sama sama sampai hampir bersamaan. �Shhh...ahhh Ndra Siska sampai nih�katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang. �Iya Siska sayang aku juga sampai nih,didalam yah yaaaang�kataku lalu menghunjamkan kontolku dalam dalam ditempik Siska. Seerr...serr..serr...croot...croot...croot kami keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut kontolku dari tempik Siska. Kontolku terlihat basah dari air mani kami dan air kenikmatan Siska. �Ugh...Ndra enaak banget ya�katanya sambil membenahi bajunya tetapi Siska tidak memakai kembali Bh dan celana dalamnya tetapi dia menyuruhku menyimpanya lalu aku menyimpanya disaku celanaku. �Iya yang aku sampai ketagihan,omong omong kamu kok nggak pakai kembali celana dalammu dan Bhmu yang�kataku sambil memakai celanaku kembali. �Nggak ah panas nih yang lagi pula aku malas lepas seragamku�katanya Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu jam pelajaran selesai sambil saling membelai kemaluan kami menikmati sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.Setelah bel pelajaran kami masuk kekelas berdua kembali mengikuti pelajaran seperti biasa.Siska tidak banyak bergerak dari tempat duduknya karena dia tidak pakai celana dalam dan Bh dan aku segera menyimpan pakaian dalam Siska ketasku takut ketahuan. Itulah petualangan seksku dengan cewek cewek kecil nan cantik yang membuatku ketagian.Dan kegiatan kami ini terus berlanjut sampai sekarang.
3 cewek cantik
X_SCORPION'S,Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang wanita karir, yang entah bagaimana ceritanya wanita karir tersebut mengetahui nomor kantorku. Siang itu disaat aku hendak makan siang tiba-tiba telepon lineku berbunyi dan ternyata operator memberitau saya kalau ada telepon dari seorag wanita
yang engak mau menyebutkan namanya dan setelah kau angkat. "Hallo, selamat siang joko," suara wanita yang sangat manja terdengar. "Helo juga, siapa ya ini?" tanyaku serius. "Namaku Karina," kata wanita tersebut mengenalkan diri. "Maaf, Mbak Karina tahu nomor telepon kantor saya dari mana?" tanyaku menyelidiki. "Oya, aku temannya Yanti dan dari dia aku dapat nomor kamu," jelasnya. "Ooo.. Yanti," kataku datar. Aku mengingat kisahku, sebelumnya yang berjudul empat lawan satu. Yanti adalah seorang wanita karir yang juga 'mewarnai' kehidupan sex aku. "Gimana kabarnya Yanti dan dimana sekarang dia tinggal?" tanyaku. "Baik, sekarang dia tinggal di Surabaya, dia titip salam kangen sama kamu," jelas Karina. Sekitar 10 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang sudah kenal lama. Suara Karina yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisiknya dari wanita tersebut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Karina membuyarkan lamunanku. "Hallo.. Joko, kamu masih disitu?" tanya Karina. "Iya.. Iya Mbak.." kataku gugup. "Hayo mikirin siapa, lagi mikirin Yanti yaa?" tanyanya menggodaku. "Nggak kok, malahan mikirin Mbak Karina tuh," celetukku. "Masa sih.. Aku jadi GR deh" dengan nada yang sangat menggoda. "Joko, boleh nggak aku bertemu dengan kamu?" tanya Karina. "Boleh aja Mbak.. Bahkan aku senang bisa bertemu dengan kamu," jawabanku semangat "Oke deh, kita ketemuan dimana nih?" tanyanya semangat. "Terserah Mbak deh, Joko sih ngikut aja?" jawabku pasrah. "Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di Mc. Donald plasa senayan," katanya. "Oke, sampai nanti joko.. Aku tunggu kamu jam 18.30," sambil berkata demikian, aku pun langsung menutup teleponku. Aku segera meluncur ke kantin untuk makan siang yang sempat tertunda itu. Sambil membayangkan kembali gimana wajah wanita yang barusan saja menelpon aku. Setelah aku selesai makan aku pun langsung segera balik ke kantor untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tiba saatnya aku pulang kantor dan aku segera meluncur ke plasa senayan. Sebelumnya prepare dikantor, aku mandi dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, aku sengaja membelinya dikantin karena aku nggak mau ketemu wanita dengan tanpak kotor dan bau badan, kan aku menjadi nggak pede dengan hal seperti itu. Tiba di Plasa Senayan, aku segera memarkirkan mobil kijangku dilantai dasar. Jam menunjukkan pukul 18.15. Aku segera menuju ke MC. Donald seperti yang dikatakan Karina. Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar jalan, sehingga aku bisa melihat orang lalu lalang diarea pertokaan tersebut. Saat mataku melihat situasi sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengan baya yang duduk sendirian. Menurut perkiraanku, wanita ini berumur sekitar 32 tahun. Wajahnya yang lumayan putih dan juga cantik, membuat aku tertegun, nataku yang nakal, berusaha menjelajahi pemadangan yang indah dipandang yang sangat menggiurkan apa lagi abgian depan yang sangat menonjol itu. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih dan juga montok dibalik rok mininya, membuat aku semakin gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya diriku bila yang aku lihat itu adalah orang yang menghubungiku tadi siang dan aku lebih bahagia lagi bila dapat merasakan tubuhnya yang indah itu. Tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdetuk kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku. "Maaf apakah kamu Joko?" tanyanya sambil menatapku. "Iy.. Iyaa.. Kamu pasti Karina," tanyaku balik sambil berdiri dan mengulurkan tanganku. Jarinya yang lentik menyetuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesr ketika tangannya yang lembut dan juga halus meremas tangaku dengan penuh perasaan. "Silahkan duduk Karina," kataku sambil menarik satu kursi di depanku. "Terima kasih," kata Karina sambil tersenyum. "Dari tadi kamu duduk disitu kok nggak langsung kesini aja sih?" tanyaku. "Aku tadi sempat ragu-ragu, apakah kamu memang Joko," jelasnya. "Aku juga tadi berpikir, apakah wanita yang cantik itu adalah kamu?" kataku sambil tersenyum. Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling bercanda, saling menggoda dan sesekali bicara yang 'menyerempet' ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah cantik saja wajahnya yang semakin matang. Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Karina adalah seorang wanita yang sedang bertugas di Jakarta. Karina adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 4 hari dinas di Jakarta. "Karin, kamu kenal Yanti dimana?" tanyaku. Yanti adalah teman chattingku di YM, aku dan Yanti sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun. Mulutnya yang mungil menjelaskan dengan penuh semangat. "Emangnya Yanti menikah kapan? Aku kok nggak pernah diberitahu sih," tanyaku penuh penasaran. "Dia menikah dua minggu yang lalu dan aku nggak tahu kenapa dia nggak mau memberi tahu kamu sebelumnya," Jawabnya penuh pengertian. "Ooo, begitu.." kataku sambil manggut-manggut. "Ini adalah hari pertamaku di Jakarta dan aku berencana menginap 4 hari, sampai urusan kantorku selesai," jelasnya tanpa aku tanya. "Sebenarnya tadi Yanti juga mau dateng tapi berhubung ada acara keluarga jadi kemungkinan dia akan datang besok harinya dia bisa dateng," jelasnya kembali. "Memangnya Mbak Karina menginap dimana nih?" tanyaku penasaran. "Kebetulan sama kantor sudah dipesankan kamar buat aku di hotel H.."jelasnya. "Mmm, emangnya Mbak sama siapa sih?" tanyaku menyelidik. "Ya sendirilah, Joko.. Makanya saat itu aku tanya Yanti," katanya "Tanya apa?" tanyaku mengejar. "Apakah punya teman yang bisa menemaniku selama aku di Jakarta," katanya. "Dan dari situlah aku tahu nomor telepon kamu," lanjutnya. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 10.25 wib, dan aku lihat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mulai larut malam. Dan toko pun sudah mulai tutup. "Jok.. Kamu mau anter aku balik ke hotel nggak?" tanyanya. "Boleh, masa iya sih aku tega sih biarin kamu balik ke hotel sendirian," kataku. Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke hotel H.. Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Plasa Senayan. Aku dan Karina bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 5, dan sesampainya di depan kamarnya, Karina menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang mengundang syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika berjalan dibelakangnya. Dan ketika aku hendak masuk ternyata ada dua orang wanita yang sedang asyik ngegosip dan mereka pun tersenyum setelah aku masuk kekamarnya. Dalam batinku, aku tenyata dibohongi ternyata dia nggak sendiri. Karina pun memperkenalkan teman-temannya yang cantik dan juga sex yang berbadan tinggi dan juga mempunyai payudara yang besar dia adalah Miranda(36b) sedangkan yang mempunyai badan yang teramat sexy ini dan juga berpayudara yang sama besarnya bernama Dahlia(36b). Dan mereka pun mempersilahkan aku duduk. Tanpa dikomando lagi mereka pun perlahan-lahan memulai membuka pakaian mereka satu persatu, aku hanya bisa melotot saja tak berkedip sekali pun, tak terasa adik kecilku pun segera bangun dari tidurnya dan segera bangun dan langsung mengeras seketika itu juga. Setelah mereka telanjang bulat terlihatlah pemandangan yang sangat indah sekali dengan payudara yang besar, Karina pun langsung menciumku dengan ganasnya aku sampai nggak bisa bernafas karena serangan yang sangat mendadak itu dan aku mencoba menghentikannya. Setelah itu dia pun memohon kepadaku agar aku memberikan kenikmatan yang pernah aku berikan sama Yanti dan kawan-kawan. Setelah itu Karina pun langsung menciumku dengan garangnya dan aku pun nggak mau tinggal diam aku pun langsung membalas ciumannya dengan garang pula, lidah kamipun beraduan, aku mulai menghisap lidahnya biar dalam dan juga sebaliknya. Sedangkan Miranda mengulum penisku ke dalam mulutnya, mengocok dimulutnya yang membuat sensasi yang tidak bisa aku ungkapkan tanpa sadar aku pun mendesah. "Aaahh enak Mir, terus Mir hisap terus, aahh.." Sedangkan Dahlia menghisap buah zakarku dengan lembutnya membuat aku semakin nggak tertahankan untuk mengakhiri saja permaianan itu. Aku pun mulai menjilati vagina Karina dengan lembut dan perlahan-lahan biar dia bisa merasakan permaianan yang aku buat. Karina pun menjerit keras sambil berdesis bertanda dia menikmati permainanku itu. Mirandapun nggak mau kalah dia menghisap payudaranya Karina sedangkan Dahlia mencium bibir Karina agar tidak berteriak ataupun mendesis. Setelah beberapa lama aku menjilati vaginanya terasa badannya mulai menegang dan dia pun mendesah. "Jok.. Akuu mauu keeluuarr." Nggak beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak itu akupun langsung menghisapnya sampai bersih tanpa tersisa. Setelah itu aku pun langsung memasukkan penisku ke dalam vagina Karina, perlahan-lahan aku masukkan penisku dan sekali hentakan langsung masuk semua ke dalam vaginanya yang sudah basah itu. Aku pun langsung menggenjotnya dengan sangat perlahan-lahan sambil menikamati sodokan demi sodokan yang aku lakukan dan Karina pun mulai mendesah nggak karuan. "Aaahh enak Jok, terus Jok, enak Jok, lebih dalam Jok aahh, sstt.." Membuat aku bertambah nafsu, goyanganku pun semakin aku percepat dan dia mulai berkicau lagi. "Aaahh enak Jok, penis kamu enak banget Jok, aahh.." Setelah beberapa lama aku mengocok, diapun mulai mengejang yang kedua kalinya akupun semakin mempercepat kocokanku dan tak beberapa lama aku mengocoknya keluarlah cairan dengan sangat derasnya dan terasa sekali mengalir disekitar penisku. Akupun segera mencabut penisku yang masih tegang itu. Miranda segera mengulum penisku yang masih banyak mengalir cairan Karina yang menempel pada penisku, sedangkan Dahlia menghisap vaginanya Karina yang masih keluar dalam vaginanya dengan penuh nafsunya. Miranda pun mulai mengambil posisi, dia diatas sedangkan aku dibawah. Dituntunnya penisku untuk memasuki vaginanya Miranda dan serentak langsung masuk. Bless.. Terasa sekali kehangatan didalam vaginanya Miranda. Dia pun mulai menaik turunkan pantatnya dan disaat seperti itulah dia mulai mempercepat goyangannya yang membuat aku semakin nggak karuan menahan sensasi yang diberikan oleh Miranda. Dahlia pun mulai menghisap payudara Miranda penuh gairah, sedangkan Karina mencium bibir Miranda dengan garangnya, Miranda mempercepat goyangannya yang membuat aku mendesah. "Aaahh enak Mir.. Terus Mir.. Goyang terus Mir.. Lebih dalam lagi Mir.. Aaahh sstt" Dan selang beberapa menit aku merasakan penisku mulai berdenyut, "Mir.. Aku.. ingiin keeluuaarr" Seketika itu juga muncratlah air maniku didalam vaginanya, entah berapa kali munceratnya aku nggak tahu karena terlalu nikmatnya dan diapun masih mengoyang semakin cepat. Seketika itu juga tubuhnya mulai menegang dan terasa sekali vaginanya berdenyut dan selang beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak sekali, aku pun langsung mengeluarkan penisku yang sudah basah kuyup ditimpa cairan cinta. Mereka pun berebutan menjilati sisa-sia cairan yang masih ada dipenisku, Dahlia pun langsung menjilati vaginanya Miranda yang masih mengalir cairan yang masih menetes di vaginanya. Akupun melihat mereka seperti kelaparan yang sedang berebutan makanan, setelah selang beberapa lama aku mulai memeluk Dahlia dan aku pun mulai mencium bibirnya dan mulai turun ke lehernya yang jenjang menjadi sasaranku yang mulai menari-nari diatasnya. "Ooohh.. Joko.. Geelli.." desah Dahlia. Serangan bibirku semakin menjadi-jadi dilehernya, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku. Miranda dan Karina mereka asyik berciuman dan saling menjilat payudara mereka. Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhnya sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buah bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku pun mulai menjilati dan sekali-kali aku gigit puntingnya dengan gigitan kecil yang membuat dia tambah terangsang lagi dan dia medesah. "Aaahh enak sekali Jok.. Terus Jok hisap terus Jok enak Jok aahh sstt.." Dahlia pun membalasnya dengan mencium bibirku dengan nafsunya dan setelah itu turun ke pusar dan setelah itu dia mulai mengulum, mengocok, menjilat penisku didalam mulutnya. Setelah dia puas aku kembali menyerangnya langsung ke arah lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesis hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan kepermukaan bibir vagina. Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tumbuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya. "Ssstt.. Jok.. Nikmat sekali.. Ughh," rintihnya. Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku diujung clitorisnya. Gerak tubuh Dahlia yang terkadang berputar-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya. "Joko.. Gila banget lidah kamu.." rintihnya "Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan.." pintanya. Paha Dahlia dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilatnya. Dahlia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejola dihatinya. "Oohh.. Joko, aku nggak tahan.. Ugh.." rintihnya. "Joko cepet masukan penis kamu aku sudah nggak tahan nih," pintanya. Perlahan aku angkat kaki kanannya dan aku baringkan ranjang yang empuk itu. Batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaannya dan sekali hentak. "Bleest.." kepala penisku menggoyang vaginanya Dahlia. "Aowww.. Gila besar sekali Jok.. Punya kamu," Dahlia merintih. Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Dahlia mengelinjang hebat danm sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa dibatang kemaluanku. "Joko.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh," pinta Dahlia. Dahlia terus menggoyangkan kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Sesekali Dahlia membantu pinggulnya untuk berputar-putar. "Joko.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh," kepalannya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti orang triping. Beberapa saat kemudian Dahlia seperti orang kesurupan dan ingin memacu birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Dahlia semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyang dinding vagina Dahlia. "Joko.. Terus.. Sayang.. Jangan berhenti.." Dahlia meminta. Permainanku benar-benar memancing birahi Dahlia untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Dahlia benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergerak hebat. "Joko.. Aakuu.. Kelluuaarr.. Aaakkhh.. Goyang sayang," rintih Dahlia. Gerakan penisku kubuat patah-patah, sehingga membuat birahi Dahlia semakin tak terkendali. "Jok.. Ooo.. Aaammpuunn," rintihnya panjang. Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit vagina Dahlia. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh penisku. Dahlia yang sudah mendapat kedua orgasmenya, sedangkan aku masih berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Posisi Dahlia, sekarang menungging. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya langsung aku hujamkan kembali ke lubang vaginanya Dahlia. "Ooohh.. Joko.. Kamu.. Memang.. Ahli.." katanya sambil merintih. Kedua tanganku mencengkeram pinggul Dahlia dan menekan tubuhnya supaya penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya. "Dahlia.. Vagina kamu memang enak banget," pujiku. "Kamu suka minum jamu yaa kok seret?" tanyaku. Dahlia hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijiti oleh vagina Dahlia dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku diterima Dahlia karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku. Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku. "Dahlia.. Aku mau.. Keluar.."kataku mendesah. "Aku juga sayang.. Ooohh.. Nikmat terus.. Terus.." Dahlia merintih. "Joko.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasakan semprotan.. Kamu.." pintanya. "Iya sudah.. Ooogh.. Aaakhh.." rintihku. Gerekan maju mundur dibelakang tubuh Dahlia semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama. "Joko.. Aku.. Aku.. Ngaak kkuuaatt.. Aaakhh" rintih Dahlia. "Aku juga sudah.. Ooogh.. Dahh," aku merintih. "Crut.. Crut.. Crut.." spermaku muncrat membanjiri vaginanya Dahlia. Karena begitu banyak spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah vagina Dahlia. Setelah beberapa saat kemudian Dahlia membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku. "Joko, ternyata Yanti benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa" kata Dahlia merintih. "Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja," kataku merendah. "Kamu luar biasa.." Dahlia tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih termangu. Segera aku palingkan wajahku ke arah Karina dan Miranda, ternyata mereka sudah tertidur pulas mungkin karena sudah terlalu lelah, dan akupun tak kuasa menahan lelah dan akhirnya akupun tertidur pulas. Dan setelah 4 jam aku tertidur aku pun terbangun karena ada sesuatu yang sedang mengulum batang kemaluanku dan ternyata Miranda sudah bangun dan aku pun menikmatinya sambil menggigit bibir bawahku. Dan kuraih tubuhnya dan kucium bibirnya penuh dengan gairah dan akhirnya kami pun mengulang kembali sampai besok harinya. Dengan terpaksa aku menginap karena pertarunganku dengan mereka semakin seru aja. Ketika pagi telah tiba akupun langsung ke kamar mandi di ikuti oleh mereka dan akupun mandi bareng dan permainan dimulai kembali didetik-detik ronde terakhir. Tanpa terasa kami berempat sudah naik didalam bathup, kami mandi bersama. Guyuran air dipancurkan shower membuat tubuh mereka yang molek bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut. Dengan halus, mereka menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya mereka. Aku mengosok keseluruh tubuh mereka satu persatu, sesekali jariku yang nakal memilih punting mereka. "Ughh.. Joko.." mereka merintih dan bergerak saat aku permainkan puntignya yang memerah. Sebelum aku meinggalkan mereka, kami berempat berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali mereka yang sedang membutuhkan kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berempat memburu birahinya yang tidak kenyang. Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 08.00 wib, dimana aku harus berangkat kerja dan pada jam seperti ini jalanan macet akupun mempercepat jalannya agar tidak terkena macet yang berkepanjangan. Aku meninggalkan Hotel H.. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang sudah ditinggalkan oleh permainan tadi.
gairah hasratku
X_SCORPION'S,Aku punya kenalan bernama Lina. Lina cukup cantik dan menarik, usianya 27 tahun, setahun lebih muda dariku. Suaminya adalah seorang pengusaha muda yang cukup sukses di bidangnya, sebut saja Aan namanya. Aku pernah mendapat kiriman foto mereka berdua yang sudah 3 tahun married namun belum
juga dikarunia anak. Usia Aan saat ini 30 tahun, mereka tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan Bintaro. Lina sering mengundangku ke Jakarta, bahkan menawarkan untuk menginap di rumahnya. Aku sebenarnya ingin juga ke Jakarta, namun mengingat kehidupanku juga agak sedikit pas-pasan, lagi pula aku banyak pasien di luar tugasku di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Oh ya, bagi yang belum mengenalku, namaku adalah Natalia yang saat ini berusia 28 tahun. Tubuhku sexy dan tinggi semampai, 170 cm tinggiku, cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita. Terus terang banyak cowok yang menaksirku, namun aku masih ingin bebas dan masih ingin sendirian saja. Namun bukan berarti aku masih gadis, bisa diikuti di ceritaku sebelumnya. Caranya mudah, pilih salah satu ceritaku di sumbercerita.com yang anda kenal, di sebelah kiri tampilannya, ada beberapa kolom, satu diantaranya berisi daftar judul kisah-kisahku, pilih salah satu dan klik, selamat mengikutinya. Aku bekerja di KBS sebenarnya hanya demi meningkatkan pengalamanku saja karena kalau dihitung dengan jerih payah dan pengorbananku di sana, rasanya sangat tidak sepadan. Setiap bulan aku hanya mendapatkan 300 ribu rupiah hanya sebagai pengganti uang transport. Namun semua jerih payahku sering kali tidak dihargai oleh para seniorku sesama dokter hewan di KBS. Pada suatu ketika aku pernah benar-benar dibuat kesal oleh mereka yang nota bene lebih senior dariku dan bergaji puluhan kali lipat daripada yang kuterima selama ini hingga aku mogok masuk kerja, namun karena sudah terbiasa setiap pagi datang ke KBS hingga sore, maka diam di rumah saja juga membuatku stress. Kembali ke ceritaku, iseng-iseng kukontak Lina melalui SMS. Kuceritakan apa yang terjadi padaku saat ini. Lina dengan penuh perhatian menawarkanku untuk libur beberapa hari di Jakarta. Lina juga menawarkan agar aku menginap di rumahnya saja agar dapat berhemat dan dapat mengobrol sepanjang hari. Kupikir-pikir apa salahnya jika kusetujui usul dan saran Lina itu? Akhirnya kuputuskan untuk berangkat ke Jakarta. Aku pun berangkat dengan pesawat terbang dan Lina berjanji akan menjemputku di Bandara Soekarno Hatta. Setiba di Jakarta, ternyata Lina benar-benar telah menungguku di pintu kedatangan. Lina tidak sendiri, dia didampingi oleh Aan suaminya. Tak lama kemudian kami pun sudah berada di atas mobil mewahnya menuju rumah mereka di Bintaro. Aan duduk di depan bersama sopir, sedangkan aku dengan Lina duduk di belakang. Di tengah perjalanan kami mengobrol banyak sekali tentang keadaan kami. Terus terang selama ini kami hanya berkomunikasi melalui email maupun telepon saja, kami belum pernah saling bertatap muka. Ternyata Lina membaca kisahku bukan sendirian saja, terkadang dia juga mengajak suaminya untuk ikut membaca kisah- kisahku. Hal ini tentunya membuatku sedikit malu saat mengetahui bahwa kisahku yang sejujurnya telah dibaca pula oleh sosok ganteng suami Lina. Aku sempat salah tingkah juga di mobil, namun untungnya posisiku duduk di belakang sehingga Aan tidak tahu akan bentuk rona wajahku yang saat itu sedikit memerah karena malu. Tanpa terasa kami pun telah sampai di depan rumah Lina yang menurutku sangat besar dan mewah. Mereka dengan ramah mengajakku masuk serta menunjukkan kamar untukku. Sebuah kamar yang memang disiapkan untuk tamu-tamu atau saudara mereka yang datang dari jauh untuk menginap. Kamarnya sungguh mewah bagiku, tak kalah dengan hotel- hotel berbintang 5 layaknya. Aku sangat mengagumi interior kamar yang kutempati, kamar mandi yang ada di dalamnya juga cukup luas dan mewah. Boleh dibilang sangat luas bila dibandingkan dengan kamar mandi pada umumnya. Kamar mandinya model terbuka atasannya, hampir tanpa atap kecuali di bagian tertentu saja dan ada seperangkat sofa di sana, pokoknya mewah sekali. Kulucuti semua pakaianku dan aku pun mandi. Segar sekali rasanya saat aku merendamkan tubuh molekku ke dalam bathtub yang luas. Ukuran bathtubnya dua kali lebih besar daripada ukuran bathtub di rumahku. Selesai mandi, kukeringkan badanku dan kukenakan kimono yang tersedia di dalam kamar mandi. Model kimononya pendek sekali, apa lagi ditambah dengan postur tubuhku yang tinggi hingga saat kukenakan, ujung kimono ini tepat berada di pangkal pahaku dan dari belakang, bagian belahan pantatku dapat terlihat dengan jelas dan dari depan juga bisa tampak dengan jelas belahan bibir vaginaku. Kudengar pintu kamar diketuk dari luar. Kubuka pintu sedikit sambil menyembunyikan badanku di balik pintu. Kulongok keluar, ternyata Lina. "Ayo masuk!" ajakku. "Udah selesai mandi ya?" tanya Lina padaku sambil langsung masuk ke kamar. Lina langsung duduk di pinggiran tempat tidur sambil matanya memandang bagian bawah kimono yang kukenakan. "Wah! Bodymu memang sexy dan menggairahkan Lia", kata Lina sambil bangkit menghampiriku. Lina serta merta mengelus pantatku hingga bagian dalam pahaku bagian belakang. See.. Eerr! Aku merasa merinding sekali, terus terang aku belum pernah merasakan bagian sensitif tubuhku disentuh oleh sesama kaumku. Sambil terus mengelus bagian belakang selangkanganku, tangan kiri Lina menyingkap kimono yang kukenakan hingga bagian depan vaginaku terpampang jelas sekali dengan bulu-bulu kemaluanku yang lembut menempel dan menyeruak ke atas. Ini mungkin membuat Lina gemas dan tidak tahan untuk tidak merabanya. Jari tangan kiri Lina langsung menyusup ke dalam belahan vaginaku. Mendapat serangan yang tiba-tiba seperti ini, mau tidak mau aku menjadi horny. Sentuhan yang tadinya menurutku menjijikkan kini berubah menjadi sentuhan kenikmatan. "Oo.. Ooh! Lin, gila kamu, aku kegelian nich", kataku lirih. Lalu Lina mendorongku ke tempat tidur hingga aku sedikit terjengkang dan telentang di tempat tidur. Lina menarik tali pengikat kimonoku sehingga bagian depan tubuhku terbuka lebar menantang. Tangan Lina langsung sibuk mengelus bagian depan tubuhku, tangan kirinya bergerilya di kedua payudaraku sementara tangan kanannya mengelus seputar selangkanganku. Sedang asyik-asyiknya aku menikmati belaian Lina atas tubuhku, tiba-tiba kudengar ketukan di pintu dan terdengar suara Aan memanggil Lina. Lina langsung berdiri membuka pintu tanpa memberiku kesempatan menutupi bagian tubuhku yang masih terbuka lebar. Kontan saja mata Aan langsung melotot melihat pemandangan gratis di depan matanya. Aan langsung ikut masuk bersama Lina. Akhirnya mereka berdua sama-sama menggerayangi bagian-baguan tubuhku dan aku seperti terhipnotis tak kuasa menolak perlakuan kedua tuan rumah. Demikian pula saat Aan mengecup bibirku, dilumatnya bibirku dengan lembut sambil tangannya meremas-remas payudaraku. Kurasakan sesuatu yang nikmat menjalar di bagian vaginaku. Ternyata Lina juga langsung mengulum vaginaku. Aku sungguh tak berdaya menghadapi serangan dari dua arah sekaligus. Busyet! Secara serentak semua bagian sensitifku mendapat serangan seperti itu hingga tentu saja membuat vaginaku menjadi lembab penuh lendir yang mengalir keluar dengan deras dari dalam liang vaginaku. Sambil mengerjaiku, Aan dan Lina melepasi pakaian yang mereka kenakan hingga akhirnya kami bertiga pun sudah sama-sama dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami. Sungguh mati seumur hidup aku belum pernah melakukan hal seperti ini, boro-boro melakukannya, terpikir pun juga tidak. Posisi Aan bergantian dengan Lina, sambil tetap menjilati bagian dada, payudaraku dan terus ke bawah lagi, Aan berganti posisi dengan Lina yang langsung berjongkok di wajahku. Bibir vagina Lina langsung ditempelkannya ke wajahku hingga mau tak mau aku pun yang sudah terangsang berat ini ikut menjilati selangkangan Lina. Kujilati bibir vaginanya yang bentuknya kecil itu. Lina rupanya mencukur habis bulu kemaluannya, sehingga sekitar selangkangannya tampak bersih. Kukulum vagina Lina dengan penuh nafsu, lidahku kujulurkan sambil mengorek klitorisnya, hal serupa juga dilakukan oleh Aan terhadap vaginaku saat itu. Aan mengulum dan menjilati vaginaku sambil kedua jari tangannya disodokkan ke dalam liang vaginaku. Jari-jarinya yang nakal dimainkannya di sana, sehingga dinding-dinding bagian dalam vaginaku terasa nikmat sekali. Aku tak kuasa menahan gelombang kenikmatan yang meledak-ledak dari dalam tubuhku saat itu. Hampir saja aku mencapai puncaknya, namun tiba-tiba Aan mengeluarkan jari tangannya hingga aku kecewa dan hampir putus asa. Belum habis kekecewaanku, tiba-tiba kurasakan adanya benda lunak yang menyodok bagian luar vaginaku. Benda tumpul itu apa lagi kalau bukan batang kemaluan Aan? Digesek-gesekkannya sebentar ujung batang kemaluannya di celah-celah bibir kemaluanku, sesekali ujung kemaluannya dimain-mainkan juga di ujung klitorisku. Aku hanya bisa menggelepar-gelepar saja sambil jari tanganku mengocok-ngocok liang vagina Lina. Lina mengimbanginya dengan menggoyang-goyangkan pantatnya bagaikan penari ular mengikuti gerakan jariku yang menggaruk-garuk dinding dalam vaginanya. Lina tak tahan lagi dan langsung orgasme saat jari tanganku menyentuh dan mempermainkan benjolan sebesar ibu jari yang tumbuh di bibir vaginanya. Setelah memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang vaginaku, Aan langsung memompanya dengan cepat. Hal ini membuatku tak bisa menahan lebih lama lagi gelombang orgasmeku hingga akhirnya jebol juga bendunganku. Entah berapa banyak cairanku yang muncrat keluar saat batang kemaluan Aan masih terus memompa vaginaku. Selanjutnya tentu bisa pembaca bayangkan sendiri apa yang terjadi, kami semalam suntuk main terus bertiga hingga pagi hari. Menjelang subuh baru kami bertiga tertidur pulas dalam satu tempat tidur. Pada pukul 21, kami sempat beristirahat untuk makan sebentar kemudian permainan kami lanjutkan kembali hingga subuh. E N D
kisahku dengan sepasang lesbi
X_SCORPION'S,Ini adalah kisah nyata, namun saya tidak akan menceritakan secara rinci, karena saya tidak mau seseorang yang kenal dengan salah satu pribadi yang ada di dalam cerita ini dapat mengetahuinya. Sebenarnya peristiwa ini beberapa tahun yang lalu , saat itu usia saya sudah 23 tahun. Saya mengalami
percintaan dengan sepasang lesbi, sebut saja Rina (23 tahun) dan Rini (21 tahun). Saat itu aku baru kenal dengan Rina di lokasi syuting sebuah film percintaan yang kebetulan aku menjadi pemeran utama prianya bersama 3 pemeran utama wanita yang salah satunya Rina itu. Berhubung karena dua pemeran utama wanita lainnya sudah punya pacar dengan sering datang ke lokasi syuting, hal ini menjadikanku lebih akrab dengan Rina. Kami sering bicara tentang apa saja kecuali relationship. Sampai suatu hari, di saat kami sedang berduaan di kamar rias, aku berhasil mengarahkan pembicaraan tentang seks. Namun dia tidak banyak bercerita, hanya banyak bertanya dari apakah aku pernah berhubungan seks, berapa banyak, dengan berapa orang, pernah 'jajan', sampai gaya yang kusuka. Sampai suatu hari, dia mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung. "Di, aku perlu bantuan kamu, tapi kamu bisa pegang rahasia nggak..?" Aku pun langsung mengangguk, karena pikiranku sudah kotor saja. Dan ternyata benar, dia mengajakku berkencan dengan syarat aku harus 100% mengikuti gaya permainan yang diinginkannya. Dan di sore harinya saat kami berdua harus menunggu jadwal berikutnya di malam hari, Rina langsung mengajakku mencari motel terdekat dengan menggunakan mobilnya. "Pake mobilku aja yah Di..?" pintanya. Dan aku bilang, "Enaknya kamu aja deh, Rin." Kami pun langsung meluncur ke salah satu motel di Jakarta dekat lokasi syuting, namun yang membuatku kaget, begitu sampai di garasi dia langsung membuka bagasi dan mengeluarkan dua gulung kain putih. Melihat wajahku yang kebingungan, dia bertanya, "Kamu ngga berubah pikiran, kan..?" Singkat kata, aku pun sudah berbaring di tempat tidur hanya menggunakan CD, dan dalam keadaan kedua tangan dan kaki terikat dengan kain yang dibawanya tadi. Dia pun tanpa buang banyak waktu langsung membuka seluruh bajunya, tinggal BH dan CD yang berwarna biru muda berenda- renda yang masih menempel di tubuhnya. Kemaluanku yang memang sudah tegang sejak di perjalanan seakan ingin mencuat keluar dari CD. Namun anehnya, dia tidak menyentuhku sama sekali, hanya memainkan kedua payudaranya dan mendesah sendiri. Tidak lama kemudian dia mencopot BH-nya, dan waauuw.., bentuk payudaranya indah sekali (saya tidak tahu ukurannya, karena memang bagi saya bentuk lebih utama daripada ukurannya). Dia pun terus memainkan kedua payudaranya, lalu berkata pelan, "Sekarang saatnya laki dipake perempuan." Aku hanya diam, dan akhirnya kupejamkan mata, karena itu yang dia minta dari awal, kupikir akan kuikuti saja permainannya. Dia pun mulai meraba dan mengelus seluruh tubuhku dan meremas-remas kemaluanku, agak sakit sebenarnya tapi tidak kuperlihatkankan agar dia dapat menikmati sepuasnya. Beberapa menit berlalu, aku pun menikmatinya, dan akhirnya kudengar seperti suara CD yang dilepaskan, dan dia pun semakin menaiki tubuhku. Karena penasaran, aku pun mulai sedikit membuka mata, kulihat dia menyodorkan kemaluannya di depan wajahku, dan memintaku menghisapnya. Aku pun menghisapnya tanpa rasa jijik, karena aku hanya menemukan aroma harum kemaluan wanita yang terjaga kebersihannya. Beberapa saat kemudian, terdengar dari mulutnya yang dari tadi diam seribu bahasa desahan, dan kemaluan Rina sudah sangat basah sekali, bukan karena ludahku, tapi pasti karena dirinya sudah sangat terangsang. Namun kurasakan ada benda dingin menempel di pahaku, ternyata Rina hendak menggunting CD-ku, mungkin karena sulit melepaskan dalam keadaan aku terikat kuat begini. Kemaluanku yang sudah agak pegal karena dari tadi tegang terus, kini agak lega karena sudah tidak tertahan CD lagi. Rina pun langsung menempelkan ujung barangku di depan kemaluannya, dan kali ini terdengar desahannya lebih keras dan lebih lepas lagi. Perlahan tapi pasti, Rina mulai menurunkan pantatnya, dan memasukkan barangku lebih dalam lagi. Kenikmatan yang amat sangat yang kurasakan ini seakan tidak ingin kukeluarkan barangku dari kemaluannya. Dia pun sambil mendesah dengan nafas yang terengah-engah terus menekan hingga habis barangku ditelan kamaluannya. Walau dalam keadaan terdiam, aku dapat merasakan kehangatan dan denyut kenikmatan di dalam kemaluannya. Lalu Rina pun mulai mengangkat sedikit pantatnya, dan mulai menggoyang-goyang, semakin lama semakin kencang namun bukan kenikmatan tapi sakit yang kurasakan, barangku seakan mau patah. Gerakannya hanya berlangsung semenit, Rina langsung roboh terkulai lemas mencapai klimaksnya, dan banyak sekali cairan yang keluar dari kemaluannya yang seakan tidak melakukan hubungan seks selama bertahun-tahun. Rina langsung berdiri, melepaskan barangku, dan langsung menuju kamar mandi tanpa memperdulikan aku yang belum mencapai orgasme. Lagipula pikirku aku tidak akan mencapai klimaks dengan cara yang menyakitkan tersebut. Beberapa saat kemudian, Rina kembali dari kamar mandi dan membersikan barangku dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat dan dalam keadaan diriku masih terikat. Dia mulai menciumiku dan seluruh tubuhku tanpa satu centi pun yang terlewat, dan kini dia menghisap barangku dengan kuat sekali seakan ingin ditelannya sampai habis. Beda sekali Rina yang tadi dengan yang sekarang penuh kehangatan, walaupun dia belum melepaskan ikatanku. Dia memperlakukanku lebih halus dan lebih merangsang, namun tampaknya kali ini dia sangat bernafsu dan ingin segera memasukkan barangku ke dalam kemaluannya. Tanpa susah payah barangku pun telah masuk, dan kali ini sangat basah kurasakan di dalam kemaluan Rina. Dia pun langsung menaikkan dan menurunkan pantatnya, manggoyangnya berputar-putar. Saat itu hanya kenikmatan tiada tara yang kami rasakan berdua, dan hanya dalam waktu 2 menit Rina sudah mencapai klimaks dan jatuh tergeletak di dadaku. Dan Rina segera menggunting ikatanku, dan memintaku segera menyetubuhinya. "Hajar aku Di, siksa aku sampai pingsan..!" katanya sambil membuka lebar-lebar kedua kakinya hingga tampak kemaluannya yang sangat merah dan basah berlendir. Aku pun langsung menyetubuhinya dalam keadaan telentang, tengkurap (doggy), miring dan kedua kaki disilangkan. Rina pun mencapai orgasme dalam setiap gaya tersebut, sampai akhirnya aku sudah tidak sanggup menahan kenikmatan. Kuberitahu Rina bahwa aku akan keluar, dia pun berkata, "Iya Di, keluarin.., keluarin yang banyak, aku juga mau keluar nih..! Ohh Aldi, aku sayang kamu.." Aku pun mempercepat genjotanku, tapi herannya Rina sudah orgasme tapi aku belum walaupun sudah kurasakan di ujung barangku. Dan sekitar tiga menit kemudian, barulah aku menyemburkan sperma yang menyemprot sampai tujuh kali. Ohh, memang ini salah satu orgasme-ku yang terbaik. Setelah itu kami pun bersama- sama ke kamar mandi untuk bilas, dan kami pun berpelukan erat dan melakukannya lagi di wastafel kamar mandi. Sambil berdiri, kusenderkan Rina di tembok, lalu sambil berjalan menuju sofa, dan berakhir disana. Dan mungkin karena lengkungan sofa, hingga membuat barangku terbenam seluruhnya mentok yang kurasakan di ujung anuku, dan kulihat Rina pun menggeliat dan menggelinjang hebat disana. Saat kembali ke lokasi syuting, kami tidak langsung turun dari mobil, karena katanya ada masalah penting yang ingin dibicarakannya denganku. Akhirnya Rina mengaku bahwa temannya Rini yang pernah datang ke lokasi syuting itu adalah pasangan lesbinya. Mereka sudah berpacaran selama sebelas bulan. Rina yang katanya sempat membenci laki- laki, lebih dulu membujuk Rini yang pernah ditiduri pacarnya sekali untuk membuktikan cintanya sebelum cowok itu berangkat sekolah di luar negeri, dan ternyata disana dia punya cewek lain. Dalam hati aku berkata, masih ada saja cewek yang dapat dibohongi dengan cara begitu. Rini pun berhasil dibujuk Rina untuk tidak menyukai laki-laki lagi, dan mereka sepakat untuk menjadi sepasang kekasih. Dan Rina meminta bantuanku yang dianggapnya tepat untuk meyakinkan ke Rini bahwa berhubungan seks dengan laki- laki tidak sesakit yang pernah Rini rasakan pertama kali sebelumnya. Dan sampailah suatu hari di kamar Rina, Rini dalam keadaan terikat dengan mulut tersumbat rapat dengan alasan Rina ingin mencoba suasana baru, dan Rini menurut saja. Padahal aku masuk dan membuat Rini merasakan kenikmatan berhubungan seks yang sesungguhnya. Setelah Rini sudah dalam keadaan terikat kuat, Rina keluar meninggalkan kamar. Aku pun langsung masuk dan menutup pintu kamar dengan rapat. Dapat kulihat ada pancaran kaget dan takut pada wajah dan tatapan mata Rini, aku pun iba dan tidak tega melihatnya, tapi kepalang basah dan aku sudah berjanji kepada Rina untuk menolong mereka untuk berhubungan kembali dengan laki-laki. Aku pun bertekad dalam hati bahwa aku harus berhasil. Aku berpikir tidak mungkin berhasil dalam hubungan pertama, karena dia baru sekali melakukan hubungan seks, dan itu sudah lama berlalu, tentu lubang kemaluannya sudah rapat kembali. Dengan wajah ketakutan, Rini memperhatikan setiap gerak- gerikku, dan membuatku sedikit gerogi. Aku pun mulai mengusap- usap kakinya dan bagian dalam pahanya, lalu kucium kering (tanpa lidah) seluruh tubuhnya. Rini yang tadinya meronta-ronta hingga pergelangan tangan dan kakinya agak memerah mulai mengurangi pemberontakannya, entah karena sakit, capek atau dia tahu kalau aku tidak bermaksud menyakitinya. Sambil kucium, kuremas pelan payudaranya dan kulepas BH- nya. Kuperhatikan bulu halusnya mulai berdiri, kupikir aku mulai dapat meningkatkan seranganku. Kumainkan payudaranya dengan dua jari tangan kiriku, sedangkan tangan kananku mulai mengelus kemaluan Rini dari luar CD-nya. Aku pun sempat terperangah mendapatkan putingnya yang mulai mengeras. Bertambah sedikit keyakinanku bahwa segalanya akan berjalan lebih mudah dari yang kubayangkan pertama. Setelah kugesekkan jari-jariku di belahan pangkal pahanya, kulihat cairan vagina Rini mulai becek dan tembus di CD-nya. Aku pun memberanikan diri menyelipkan jariku untuk meraih klitorisnya, dan seperti yang kubayangkan sebelumnya, ternyata memang Rini sudah terangsang habis. Karena lupa minta gunting sama Rina, dengan susah payah kutarik putus CD Rini. Dan kuperhatikan nafas Rini mulai tidak teratur, dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Kujilati kemaluan Rini dan kuhisap klitorisnya secara terpisah (cara ini kudengar dari pembicaraan orang dewasa waktu saya masih SMP, katanya disebut Indian Style). Pantat Rini bergerak naik turun, sekarang bukan hanya dadanya, tapi seluruh tubuhnya bergetar dengan kuat. Tidak lama kemudian keluar cairan hangat dari dalam kemaluan Rini, dan getaran tubuhnya melemah. Kini kuhisap kering payudaranya, namun saat kutatap matanya Rini memejamkan matanya, padahal aku tahu kalau dia selalu mencuri kesempatan untuk menatapku. Kuusap lagi kemaluannya dan kupijat-pijat kecil di sekitar pangkal pahanya, dan ternyata tanpa membutuhkan waktu lama, Rini mulai menikmati sentuhan- sentuhanku di tubuhnya. Kini mulutku kembali bergerilya di selangkangannya, dengan menjilat dan menghisap klitorisnya secara terpisah. Ketika kurasakan tubuh Rini mulai bergetar lagi, kupikir inilah saatnya memasukkan barangku tanpa Rini harus merasakan sakit. Aku pun bangun dan siap untuk menggagahinya. Dan ketika barangku sudah di mulut kemaluan Rini, kulihat Rini masih dalam keadaan terbungkam mulutnya menggelengkan kepalanya dengan pelan, tapi kemudian dia memejamkan matanya lagi dan membuang wajah. Aku pikir ini penolakan basa-basi, langsung kuhujamkan barangku ke dalam kemaluan Rini tanpa hambatan yang berarti. Dan mulai kumaju-mundurkan barangku, tapi kurasakan vagina Rini sangat basah dibandingkan dengan Rina. Dan dalam waktu yang singkat, aku langsung merasakan bahwa aku akan orgasme. Dengan santainya kukatakan pada Rini, "Rin, aku mau keluar.." Kulihat Rini menggelengkan kepalanya lagi, dan aku benar- benar tidak tahu maksudnya apa, tapi ada bekas air mata mengalir yang belum dilap, dan aku tidak tahu kapan keluarnya, namun tubuh Rini mulai bergetar lagi dan sepertinya dia mencapai klimaks berbarengan dengan aku. Aku tidak tahu apa aku terlalu bernafsu hingga permainan yang, "sebenarnya" hanya berlangsung sekitar tiga menit. Namun saat kucabut, aku masih melihat lendir kemerah- merahan bercampur darah yang keluar dari kemaluan Rini. Aku keluar kamar, dan mendapatkan Rina yang sedang menunggu dengan wajah cemas. Rina pun bertanya, "Gimana Di, sukses..? Rini gimana..?" Kubilang lumayan tapi memang harus dua kali baru sempurna. Aku pun pamit untuk segera kembali ke kamar. Aku mulai menciumi Rini lagi yang masih dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal. Namun karena kurasakan barangku sudah mengeras, langsung saja kutempelkan kepala barangku ke vagina Rini, lalu kugesekkan di klitoris dan sekitarnya, Rini pun tampak kegelian. Kami sempat terkaget karena pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Rina masuk ke dalam, mungkin karena melihat tidak ada tanda-tanda marah atau kebencian di mata Rini. Rina membuka sumpalan mulut Rini dan mereka pun berciuman. Namun hanya sebentar, dan Rina melepaskan ikatan Rini. Rina mendorongku hingga tidur telentang, lalu mulai mengulum penisku, dan Rina melakukannya dengan sangat baik. Tanpa disuruh, Rini menibanku dan mulai menciumi bibirku, kami pun berciuman. Dan Rina melepaskan kulumannya, lalu memanggil Rini agar memasukkan penisku dangan menjongkokiku. Dengan bantuan, Rina memegang pinggul Rini, mengangkat dan menurunkannya lagi sehingga gerakannya menjadi teratur, mereka pun berciuman lagi. Tidak lama kemudian Rini mencapai klimaks dan jatuh terbaring di sebelahku. Rina segera menghampiri dan berkata, "Aldi, giliranku kapan..?" Tanpa menunggu jawabanku, Rina langsung melebarkan kangkangannya, dan melesakkan penisku ke dalam vaginanya yang hangat merangsang dan basah itu. Setelah Rina selesai, kemudian Rini lagi, lalu terakhir ditutup dengan Rina. Selesai sekitar jam sebelas malam, kami keluar untuk beli makan di mobil, lalu kembali ke rumah Rina yang memang tinggal sendiri di Jakarta, dan kami bertiga melakukannya lagi sampai jam setengah empat pagi tapi sulit saya ceritakan disini. Diantara beberapa pengalaman saya, ini adalah cerita yang cukup berkesan bagi saya, dan patut untuk dibagi bersama pembaca lain. Saya menulis ini juga karena tergerak setelah membaca pengalaman- pengalaman lainnya yang dibagikan kepada pembaca. Untuk Rina dan Rini, maaf kalau waktu itu aku sempat menghilang (ganti nomer handphone), karena punya pacar yang cemburuan, tapi kalau sampai membaca cerita ini, tolong email aku. Kalau mungkin kita dapat bernostalgia lagi. TAMAT
nini yang misterius 1
X_SCORPION'S,Pada pertengahan tahun lalu, aku sedang makan siang di cofee chop sebuah hotel di bilangan Sudirman dengan seorang account executive untuk urusan pelaksanaan promosi produk perusahaan dimana aku bekerja. Kami duduk di meja dekat pintu masuk dan aku mengambil kursi yang
menghadap ke dalam. Selesai menikmati makanan yang kami pesan, kami melanjutkan pembicaraan sambil minum kopi. Aku tidak sadar bahwa berjarak 3 meja searah pandanganku, duduk sekelompok tamu yang terdiri dari 3 wanita dan 2 pria. Lurus dengan pandangan mataku tampak seorang wanita cantik sekali berwajah indo yang kuperkirakan berumur 28 tahunan. Saat pandangannya tepat beradu dengan mataku, kulempar senyuman kecil di bibirku. Beberapa kali pandangan kami bertemu karena memang arahnya yang sama. Aku pergi ke kamar kecil. Sebelum aku berdiri, aku melirik dengan sudut mataku ke arah wanita tersebut lalu kutinggalkan meja menuju toilet pria yang terletak di ujung lorong belakang resepsionis hotel. Pada saat aku selesai dengan urusanku di toilet, aku keluar dan kembali ke arah coffee shop. Belum jauh aku melangkah, tampak sang wanita cantik itu berjalan juga ke arah toilet hingga kami berpapasan. "Hai.. Sudah selesai makannya?" sapaku iseng. "Virano namaku, boleh berkenalan?" Mendadak keberanianku timbul sambil kuulurkan tanganku. "Nini, baru selesai.. Sebentar lagi jalan.., kamu masih lama?" katanya sambil menjabat tanganku. "Sebentar lagi juga selesai, lalu kembali ke kantor" jawabku. "Hubungi aku ya.." katanya sambil memberi secarik kertas yang telah dipersiapkannya dan telah dilipat menjadi kecil yang langsung kumasukkan ke kantongku. Tak lama kemudian kutinggalkan coffee shop tersebut tanpa melirik lagi kepadanya dan aku kembali ke kantor, meneruskan pekerjaanku. Malamnya di rumah, seperti biasanya aku keluarkan seluruh isi kantongku dan meletakkannya di meja kerjaku tanpa memperhatikan satu persatu, tetapi tidak kubuang. Biasanya, setelah beberapa hari paling lama 2minggu, aku selalu membersihkan meja kerjaku di rumah dengan memperhatikan isi kertas yang ada satu persatu sebelum aku membuangnya. Saat kubereskan 10 hari kemudian, aku menemukan secarik kertas terlipat kecil yang diberikan oleh Nini yang berisikan sebuah nomor telepon rumah. Untung saja aku temukan karena kalau tidak aku sudah lupa dengannya. Langsung saja kumasukkan dalam memory HP-ku. Malamnya kucoba menelepon Nini. Ternyata dia tidak di rumah. Keesokan paginya aku mencobanya lagi. "Hallo, bisa bicara dengan Nini?" tanyaku di telepon. "Nini di sini, dengan siapa" tanyanya kembali. "Virano, baru bangun ya?" kataku. "Hai.., kok lama baru telepon, aku tunggu sejak kita ketemu lho, nanti sore ada acara nggak?, tanyanya. "Justru aku telepon mau ngajak ketemu, jam 7:30 gimana?" tanyaku. Sorenya aku menuju ke sebuah restoran di lantai 26 lantai paling atas sebuah gedung di bilangan Sudirman, sebuah restoran yang terkenal dengan steaknya dan bersuasana romantis dan agak remang pada malam hari. Aku menunggu sekitar 15 menit sebelum Nini datang dengan anggunnya, berjalan dengan kaus putih atasan ketat tanpa lengan memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang kuperkirakan berukuran 36B, rok mini bahan kulit ketat warna coklat, dengan tinggi lebih dari 170 cm, memperlihatkan bentuk kaki panjang yang indah menopang sepasang gundukan pantat bulat yang menggemaskan untuk segera diremas. Dengan rambut ikal tergerai sampai bahu, menunjang pancaran sinar menggemaskan dari wajah sexy menggairahkan yang mengundang minat setiap lelaki untuk segera mencicipinya saat memandangnya. Dia mengambil kursi di hadapanku sehingga aku dapat memandang wajah sexynya sepuas-puasnya, apalagi dengan sinar lampu yang remang-remang hingga menambah gairah hangat yang terasa mengalir di sekitar pahaku. Aku memesan Rib Eye Medium Well dan Nini memesan Tenderloin Well Done beserta sebotol red wine. Kami mengobrol panjang lebar tentang dunia hiburan sampai dunia usaha dan ekonomi. Nini adalah seorang wanita yang enak diajak mengobrol, pengetahuannya luas dengan gaya bicara serta body language yang mengagumkan sehingga membuatku sedikit terangsang. Selama pembicaraan, seringkali Nini memandang tanganku bila aku sedang meletakkan tanganku di atas meja, entah apa yang dipikirkannya. Botol wine kami habiskan pada saat jam telah menunjukkan pukul 22:15. Tak terasa hampir 2 jam lebih kami berada di tempat itu. Kupanggil waiter untuk meminta bill. Setelah kubayar, kami berjalan menuju lift untuk menuju ke tempat parkir. "Kamu ikuti mobilku ya.." bisiknya. "Mau kemana?" tanyaku. Nini tidak menjawab pertanyaanku. "Tuh mobilku" katanya sambil menunjuk sebuah Bulldog E Class warna putih yang diparkir dekat pos satpam. "OK, mobilku itu" ujarku sambil menunjuk sebuah Honda Accord warna coklat tua. Kami keluar dari tempat parkir menyusuri Sudirman ke arah selatan dan aku mengikuti Nini memasuki kompleks perumahan mewah dan hanya memerlukan waktu 10 menit untuk sampai di sebuah rumah yang besar. Seorang penjaga membuka pintu pagar dan Nini langsung memasukkan mobilnya ke garasi sedangkan aku sampai depan garasi saja. Tampak sebuah mobil lain tertutup kain di garasinya. Aku diajak Nini masuk melalui pintu garasi lalu Nini mengambil sebotol wine dari lemari es-nya beserta 2 buah gelas dan menyodorkannya padaku. Aku tuang wine itu masing-masing setengah gelas dan kuberikan sebuah pada Nini. Lalu Nini menggandeng tanganku dan membawaku memasuki sebuah kamar. Kamar tidurnya yang besar mungkin berukuran 10 x 8 m, tampak lemari besar dengan berbagai hiasan, piagam dan foto. Satu set sofa dan kursi malas melengkapi isi kamar itu. Aku tertegun agak lama karena kulihat sebuah bingkai foto besar di atas ranjang, foto Nini tanpa busana namun terkesan sangat artistik dimana Nini berpose dalam keadaan duduk, menaikkan sebelah kakinya untuk menutupi vaginanya serta kedua tangannya disilangkan untuk menutupi sepasang buah dadanya. "Vir.., kenapa bengong.. Bagus kan fotoku? Mari kita minum lagi" Cahaya redup menambah romantisnya suasana ditambah suara musik dari sebuah tape di pinggir ranjang dengan suara lembut di seluruh sisi kamar tersebut. Sound System yang bagus. Aku minum seteguk lalu dia mendorongku duduk di sofa yang ada senderan tangannya, gelas wine yang dipegangnya diberikan padaku. "Kamu duduk di situ baik-baik ya, aku mau menari untukmu" suaranya lirih. Suara musik berirama slow terdengar lembut, aku duduk di muka Nini. Musik semakin lama semakin menghentak. Nini menggoyangkan badannya mengikuti irama sambil menatapku tajam. Nini mulai menggerakkan tangannya. Berawal dari mulut, dibasahinya bibirnya dengan jilatan lidahnya. Dimasukkannya jari-jari tangannya lalu dihisap. Kunikmati adegan itu sambil menatap ke arah Nini. Dikeluarkannya sedikit desahan lalu diturunkannya tangannya ke bawah perlahan menyusuri tubuhnya. Bergerak dengan lambat di buah dadanya, diremas-remas dengan nafsu yang mulai hadir membara. Tangannya pun mulai turun melewati perut ke arah bawah. Dipandanginya aku dengan mata penuh nafsu dan mulut mendesah-desah. Kakinya dibuka lebar lalu melangkah mendekatiku, satu kakinya dinaikkan ke kursi di antara kedua pahaku, rok mininya terangkat ke atas sehingga tampak celana dalamnya yang kecil hanya berbentuk segitiga menutupi liang vaginanya. Pantatnya diputar-putar sambil tangannya terus bergerilya di dadanya. Kakinya dijulurkan menyentuh dan menekan penisku yang mulai menegang. Aku menarik kakinya, tapi Nini dengan halus menarik kembali kakinya hingga membuatku penasaran. Dia berbalik sambil mulai menarik kausnya ke atas melewati kepala. Tidak terlihat ada BH yang melingkar di dadanya hingga aku sempat heran karena sedari tadi aku tidak mengetahui bahwa Nini tidak mengenakan BH. Dengan perlahan sambil tangannya meraba pantatnya sendiri, lalu Nini menjulurkan tangan, ditariknya kepalaku sambil membungkukkan badannya sehingga pantatnya berada hanya 10 cm dari hidungku. Dengan rok yang telah terangkat ke pinggul, tampak Nini hanya mengenakan G-String tipis. Nini memasukan 2 jari ke dalam vaginanya dan mengocoknya beberapa kali sambil kepalanya terus menoleh ke arahku. Aku memajukan kepalaku dan kupegang sambil kukecup pantatnya tetapi goyangan dan gerakan memutarnya yang lembut kembali menggagalkan usahaku. Kembali dia melenggok dan memutar pinggulnya. Jarinya dikeluarkan dari vaginanya, disodorkan padaku dan segera kujilat dan kukulum kedua jari itu, lalu Nini mengocok jarinya di dalam mulutku. Penisku sudah ereksi dengan sempurna di dalam celanaku yang menggelembung. Aku berusaha untuk membuka celanaku, tapi Nini dengan sigap menarik kedua tanganku dan meletakkannya di pinggangnya. Aku mencoba memerosotkan G-Stringnya, tapi dengan erotisnya dia mencegahnya dengan menarik tali pinggir G-Stringnya ke atas. Akhirnya Nini berjongkok dan mendorongku untuk bersandar, lalu dengan cekatan Nini membuka celana panjang dan celana dalamku melewati kedua kakiku hingga seketika penisku lepas terbebas dan langsung mencuat tegak ke atas. "Woow.. Soo big.., it must be nice.." desah Nini perlahan. Sambil tetap menggoyangkan pantatnya, Nini duduk di pangkuanku dan membuka kancing-kancing bajuku sampai aku telanjang bulat, sementara dia masih mengenakan rok yang telah terangkat sampai pinggang dan G-Stringnya. "Nini.. You're soo great.., very nice breast" ujarku sambil mepegang lembut buah dadanya dengan kedua tanganku. "Virano.. Very big.., I want to taste it, may I?" pintanya. Nini memegang penisku sambil menundukkan kepala dan mulai mencium bibirku dengan lembut. Dijelajahinya bibirku dari ujung ke ujung. Lidahku mencari lidahnya namun dengan lihainya Nini menahannya di dalam sehingga aku hanya dapat menciumi bibirnya saja. Tiba tiba Nini menjulurkan lidahnya dan menghisap lidahku sehingga lidahku tertarik masuk ke dalam mulutnya. "Oughh..", teriakku kaget. Nini tersenyum nakal sambil turun dari pangkuanku. Dipegangnya penisku, bibir sexynya mulai mencium ujung lubang kecilnya lalu dijilatnya. Rasa ngilu terasa menyengat seluruh tubuhku. Kedua kakiku diangkatnya ke atas senderan tangannya lalu pantatku ditariknya sehingga aku terduduk di ujung sofa. Lalu Nini memasukkan jari tengah tangan kanannya ke mulutnya dan mengocoknya beberapa kali kemudian mencari anusku yang terbuka. Jarinya memutar di bibir anusku lalu didorongnya memasuki anusku. Dijilatinya seluruh batang penisku, lalu diciumnya kembali ujung penisku sambil diberinya sedotan ringan yang semakin lama semakin keras sambil lidahnya tetap bermain di ujung lubang penisku. Dengan sedotan yang semakin keras, otomatis penisku masuk ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit dan setengah panjang jarinya sudah berada di dalam anusku. "Oohh.. Ni.. Feel soo great for me.., how can you?" deashku sambil kutengok ke bawah, Nini sedang berkonsentrasi melakukan teknik itu sambil matanya menerawang ke atas. Dengan tekniknya, penisku semakin masuk ke dalam mulutnya, sudah 3/4 nya, sudah terasa sampai ke ujung dalam mulutnya. Nini mulai memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil terus menyedot penisku hingga terasa semakin masuk. Kulihat Nini menahan nafasnya dan terus berusaha untuk mendorong kepalanya ke bawah. Akhirnya seluruh penisku berhasil masuk ke dalam mulutnya sampai bibirnya dapat menyentuh dasar penisku yang berbulu. Jarinya tetap diam berada di dalam anusku. "Ni.. ni.., Soo deep.., very.. Nice.." aku mendesah. Nini telah menunjukkan keahlian oralnya padaku, tepi ternyata belum berhenti sampai di situ. Nini tetap menahan penisku di dalam mulutnya yang ujungnya telah masuk sebagian ke dalam tenggorokannya, lalu dia melakukan gerak menelan dengan mulutnya berkali kali dan mulai mengocok anusku dengan jarinya, semakin lama semakin dalam rasanya hingga penisku serasa dipijit-pijit, dikocok dan diperas. Anusku juga dikocoknya dalam-dalam. Aku tidak dapat menggoyangkan pantatku karena tertekan oleh tangan kiri Nini. Gerakan menelan dan kocokan jarinya semakin lama semakin cepat hingga akhirnya terasa ada desakan sperma mendorong keluar dari penisku. Nini mengetahui hal ini hingga dia tekan jarinya sedalam mungkin lalu berhenti, demikian juga dengan mulutnya didorong sedalam-dalamnya sehingga bibirnya menekan dasar penisku bersamaan dengan keluarnya spermaku yang langsung masuk di tenggorokannya. "Ni.. ni.. aahh.. i'm cumming.." jeritku. "I never feel like this before.., very nice" ujarnya. Tak terlihat ada sperma di mulutnya karena semuanya telah langsung tertelan di tenggorokannya. Dengan sangat perlahan dikeluarkannya penisku dari mulutnya sambil tetap menahan sedotan mulutnya, jarinya pun ditarik perlahan hingga menimbulkan rasa sangat nikmat pada anusku.
Nini melakukan proses gerakan menelan sampai aku orgasme kira kira dalam waktu semenit. Berarti Nini tidak bernafas selama itu juga, karena lubang nafas di tenggorokannya tertutup oleh penisku. Aku bersandar di kursi menikmati orgasme paling nikmat yang pernah kurasakan selama ini. Nini meletakkan kepalanya di atas pahaku sambil melirik kepadaku. Tampak rona puas di wajahnya atas keberhasilannya menaklukkan seorang lelaki. Tak ada keringat di tubuh kami berdua karena memang kami tidak bergerak untuk mencapai orgasmeku, Nini hanya menggerakkan mulut, leher dan jarinya, sedangkan seluruh badanku diam hanya sesekali saja otot keggelku berkedut. Nini bangkit menarik tenganku dan membawaku ke ranjangnya, Nini tahu bahwa aku sangat lemas. Dibaringkannya aku di ranjangnya yang empuk. Aku tiduran sambil memejamkan mataku untuk beristirahat. Lalu Nini berbaring di sisiku sambil sesekali tangannya mengelus penisku. Aku tahu, Nini patut mendapatkan yang terbaik yang pernah aku berikan pada seorang wanita, karena itu aku bertekad untuk habis-habisan memuaskan dia. Tak lama kemudian aku bangkit berdiri menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya, sebuah kamar mandi mewah dengan bathtub bundar besar di tengah ruangan, cukup untuk 2 orang sekaligus. Sewaktu aku kembali ke dalam kamar, kulihat Nini telah telentang sedang memejamkan matanya dan tidak menyadari kalau aku sudah kembali. Perlahan aku berjongkok di lantai dekat kakinya, kutundukkan kepalaku, kukecup ringan jempol kakinya. Nini agak terkejut hingga menarik kakinya, tapi dijulurkannya kembali. Aku melanjutkan mengecup seluruh jari kakinya lalu mulai mengulum jempol dan menghisapnya berkali kali. Kuulangi untuk seluruh jarinya kiri dan kanan. "Viir.. Geli.. Tapi enaak.. Vir.." rintihnya. Kulanjutkan penjelajahan lidahku di telapak kakinya sambil memberi gigitan-gigitan kecil di permukaannya hingga Nini menggoyang-goyangkan kakinya karena kegelian. Lalu aku naik ke betisnya, aku hisap belakang lututnya dan terus menelusuri pahanya hingga naik ke atas. Kujilati lipatan pangkal pahanya sambil sesekali menyentuh vaginanya yang masih tertutup G-String dan rok mininya masih berada di pinggang. Nini ikut terbawa nafsuku. "Lick me.. Lick me.. Suck my clit pleassee..", ujarnya di tengah-tengah jilatanku. Aku naik ke atas. Kutindih tubuhnya dan mulai kucium bibirnya, beradu lidah sambil menekankan penisku ke klitorisnya dan menggeseknya maju mundur, kujilat telinganya dan kugigit perlahan. Aku hisap sekeras-kerasnya, kujilat bibirnya tanpa mencium. Dia mengelinjang. "Go down.. Go down.. Vir..", pintanya semakin bergairah. Aku jilat lehernya dengan penuh nafsu. Semakin turun, kujilat dadanya dan kugigit kecil putingnya. "Ssff.., Vir.. Aaugghh.. More.. Moree.." Kujilat juga perutnya. Semakin ke bawah, masih ada rok mini yang mengganggu keasyikanku. Sambil kuhisap putingnya, kubuka roknya lewat kaki serta kutarik G-Stringnya lepas. Kulanjutkan menjilati bagian perut dan kuhisap ringan pusarnya sampai bagian bawah perutnya. Kujilat klitorisnya sebentar lalu kuteruskan ke bagian sisi vaginanya sambil sesekali kuhisap agak kuat dan kupermainkan kembali klitorisnya dengan bibirku sambil terkadang kusedot. Sementara itu kumasukkan jariku sedikit ke dalam vaginanya hingga membuat dia semakin penasaran. Badannya bergoyang menahan sensasi. Tangannya meremas-remas dadanya sendiri. Dia sudah hilang kesadaran hingga kini gairahnya yang mengontrol. "Pleasee lick it, Vir.. Oohh.. Viir.." jerit Nini. Tetapi aku belum mau menuntaskan permainan oralku. Kuangkat tinggi-tinggi kakinya dan kulanjutkan jilatanku menuju anusnya tanpa menyentuh vaginanya hingga membuatnya semakin blingsatan. Kujilat ringan anusnya lalu kucium pinggirannya. Kubalikkan badan Nini karena dengan posisi demikian, ruang gerakku terasa kurang leluasa. Kuambil bantal lalu kusisipkan di bawah perut Nini sehingga sekarang posisi pantatnya menungging dengan kepalanya menekan ke ranjang. Kembali kucium dan kujilat bongkahan pantatnya dari ujung atas belahan pantatnya serta menelusuri belahannya ke bawah, kugunakan kedua jempol tanganku untuk menarik kedua pantatnya sehingga lubang anusnya terbuka lebar. Kujulurkan lidahku dan menyapu melingkari permukaan anusnya. "Ooughh..", jeritnya keenakan ketika lidahku menyentuh lubangnya. Kulingkari permukaannya sambil kudekap seluruh anusnya dengan bibirku, lalu kudorong lidahku ke dalam anusnya dengan keras sambil kuputar lidahku beberapa kali. "Aah Vir.. Deeper.. Deeper.." rintihnya sambil menggelengkan kepalanya keenakan. Lalu dengan tiba tiba, kutarik lidahku dari anusnya dan kusedot sekuat kuatnya. "Ooh.. What are you doing.. It's soo nice.. I can orgasm with that.. I never have that before.." teriak Nini. Lalu kuulangi teknik itu beberapa kali sampai Nini memohon.. "Vir.. Stop.. Stop.. Please.. Bring in your big cock inside me.., I am eager to have it in my cunt.." Desahnya dengan suara yang sangat merangsang. Aku balikkan tubuhnya. Nini membuka kakinya sehingga vaginanya terpampang dengan jelas, tapi aku belum selesai dengan oralku. Kujilat kembali klitorisnya dan kupermainkan dengan bibirku dan kusedot kuat kuat. Setelah puas memainkan klitorisnya, lalu aku mulai menyorongkan wajahku ke arah kemaluannya untuk menjilatinya. Terasa bau khas kemaluan wanita yang harum dan merangsang. "Aauuww.. Aahh.. Sshh.. Terus Vir, terruuss.. Oohh.." Kuhisap air kemaluannya sampai kering, terasa asin tetapi nikmat. Seiring dengan hisapan-hisapanku, tubuhnya kembali semakin bergerak liar. Kumainkan liang kemaluannya dengan lidahku, kuputar-putar dan kumasukkan lidahku ke dalamnya. Terasa lidahku seperti memasuki sesuatu yang hangat dan sempit. Kumainkan kemaluannya dengan lidahku hingga membuatnya merasa akan orgasme. Badannya menegang dan pahanya menghimpit kepalaku yang membuatku susah bernafas. "Oohh.. Ooww.. Ooww.. Uuhh.. Aahh.." rintihnya lemas menahan nikmat ketika hanya dalam 2 menit kemudian cairan orgasmenya yang hangat kembali menyembur keluar. Kemaluannya kini semakin basah karena dia baru saja orgasme dan kuhisap semua cairan yang ada dalam kemaluannya. "Kau hebat sekali Vir, membuatku terangsang ke langit ketujuh dan orgasme, nikmat sekali cumbuanmu. Tidak salah penilaianku saat kita dinner tadi", bisiknya halus. Aku hanya tersenyum. Lalu Nini menarik dan mencium bibirku dengan lembut, penuh dengan perasaan. Lidahnya menari-nari di dalam mulut, bermain dengan lidahku. Sementara tangannya meremas pantatku perlahan. Ditidurkannya aku kembali ke sisinya. Ciumannya bergeser ke bawah, ke leherku. Dijilatinya perlahan, kembali lagi ke telingaku, lidahnya menari-nari di dalam telinga dan menyedot perlahan ujungnya hingga membuatku melayang dan birahiku bangun kembali. Kemudian elusannya di dada berubah menjadi remasan di penisku yang telah mengeras kembali sejak tadi. Kembali kutelentangkan tubuhnya di ranjang dengan pantat kuganjal bantal. Kuarahkan penisku ke liang vaginanya dan kudorong sedikit. Aku mulai menggoyangkan pantatku ke kanan kiri secara perlahan seakan mengorek dan menusuk-nusuk dinding vaginanya. "Ooh.. Ooh.." Nini menjerit-jerit melampiaskan kenikmatannya sambil menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan memutar. Tangannya memegang pinggulku lalu menariknya dengan kencang sehingga terasa sangat dalam penisku masuk di vaginanya. "Come on vir.. Come on virr.. i am almost.. cuum.." Nini mengerang ngerang. Kutekuk kedua lulutku lalu kuangkat kaki Nini sampai lututnya menyentuh dadanya dan kutindih dia sambil memaju-mundurkan pantatku sehingga aku dapat melakukan penetrasi sangat dalam sampai terasa tulang kemaluanku beradu dengan tulang Nini. Kurasakan ada dorongan luar biasa dari dalam tubuhku dan akan keluar melewati penisku. Kupercepat goyanganku, kudorong semakin dalam pinggangku lalu setiap kali penisku masuk dalam dalam, kukedutkan ototku hingga menyebabkan penisku semakin membesar dan mengeras. "I am cumming.. I am cumming.. Ni.." teriakku. "Me too, me too.. Please.. Don't stop.." Nini balas berteriak. Akhirnya kurasakan badan Nini mengejang kuat sambil tangannya mencengkeram punggungku kuat kuat, saat itu pula spermaku kusemburkan di dalam vagina Nini sambil kudorong sedalam-dalamnya ke vagina Nini. Terada ada 5-6 semburan yang kukeluarkan dan setiap semburan mengakibatkan semakin kencangnya cengkeraman Nini di punggungku. "Viirr.. Ooh.. Nikmaatt.. Aku keluar lagi Virr.." Nini berteriak. Badanku sedikit kuangkat untuk memberi ruang bagi Nini meluruskan kakinya dan badanku ambruk di atas badannya sambil kucium kening dan pipinya. Kulirik jam di dinding. Jam 2:12. ***** Kami tertidur telanjang bulat berpelukan dengan AC yang masih menyemburkan udara dingin. Aku terbangun saat kurasakan kehangatan menyelimuti penisku. Terasa pelukanku kosong tapi penisku terasa geli. Kubuka mataku dan kulihat Nini sedang mengulum dan menjilati penisku. Terasa jilatannya berbeda dengan yang aku rasakan kemarin. Kali ini Nini menjilati dan mengulum penisku seperti makan lollipop, dijilatnya mulai pangkal sampai ujungnya bergantian, kadang zakarku dikulum dan disedotnya hingga menyebabkan aku kegelian. "Nini.. Breakfast ya?" tanyaku. "Hmm.. Hmm.." gumamnya. Aku tarik kakinya untuk mengajaknya berposisi 69. Nini menyodorkan vaginanya ke mulutku yang langsung kujilat dan kumasukkan lidahku ke dalamnya. Penisku kembali mengeras dan tegak ke atas. Nini bangkit lalu memintaku tiduran. Lalu Nini tiduran pula berhadapan sambil memelukku. Nini mengangkat kaki kanannya dan ditumpangkannya ke kakiku sehingga vaginanya terbuka menantang. Ditariknya pantatku lalu penisku diarahkannya ke lubang surganya. Tidak terlalu sulit untuk masuk. Saat setengah kepalanya sudah masuk, aku beri dorongan ringan tapi Nini menahan pinggulku. Bibirku diciumnya dan lidahnya menyeruak ke dalam mulutku mencari lidahku. Kami berciuman dengan hangatnya dengan penuh nafsu birahi. Sambil berciuman, terasa penisku seperti tertarik masuk padahal aku tidak mendorongnya. Kupegang pinggul Nini yang ternyata diam juga, tetapi kembali terasa penisku memasuki vaginanya dan bibir vaginanya berdenyut-denyut menekan hingga membawa penisku masuk. Jarakku dengan Nini semakin dekat dan akhirnya menempel bersentuhan. Kuraba penisku, ternyata semuanya sudah masuk ke dalam vagina Nini. Terlihat bintik keringat di wajahnya pertanda Nini telah mengeluarkan tenaganya untuk menyedot masuk penisku. Menakjubkan.., Nini ternyata memiliki teknik bercinta yang sangat luar biasa. Dia telah memperlihatkan teknik oral sex yang tidak ada duanya, dan sekarang dia tunjukkan pula teknik penetrasi yang jarang dimiliki oleh wanita. Konon hanya wanita dari pulau tertentu saja yang menguasaii teknik ini, padahal Nini adalah keturunan dan lahir di kota yang terkenal dengan kecantikan para wanitanya di ujung utara Indonesia ini. Saat penisku sudah masuk semua, terasa penisku masih dipijit-pijit tapi tanpa disedot lagi. Akhirnya dia menggulingkanku dan dia naik menduduki penisku. Buah dadanya yang sangat indah kupegang dan kuremas-remas. Lalu Nini mulai memaju-mundurkan pantatnya mengocok penisku sambil menekankan klitorisnya pada batang penisku. Gerakannya semakin cepat lalu diubah dengan gerakan memutar yang semakin cepat seperti penari hula-hula. Kuremas buah dadanya semakin kencang. Penisku terasa diperas dan dipelintir. "Nini.. Ooh.. Kamu.. Hebaat Ni.." desahku. "Kontol kamu sih enaakk.. Jadi aku hilang kontrol.." katanya. "Teruuss Ni, jangan berhenti.. Aku mau keluar.. Kamu masih lama nggak..?" tanyaku. "Keluarin aja, aku juga mau keluar.." jeritnya. Putarannya semakin cepat lalu tubuh Nini mengejang hebat, terasa vaginanya semakin licin. "Viirr.. Akku.. Keluar.. Dulu vir.." jeritnya sejadi-jadinya. Tetapi Nini tahu apa yang harus dilakukan, putaran pinggangnya tidak berhenti, keringat sudah bercucuran dari wajah, leher dan seluruh badannya hingga menjadikan kulitnya semakin mengkilat basah dan semakin sexy. "Nini.. Aku juga mau keluar.." teriakku. Nini melepaskan vaginanya dari penisku dan digantikan oleh mulutnya. Penisku dikulum sambil dikocoknya dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian orgasmeku tiba dan spermaku menyemprot hingga mengenai langit-langit mulut Nini. Nini berusaha tetap mengulum penisku. Setelah selesai dengan orgasmeku, tampak Nini menelan spermaku lalu dia naik ke tubuhku dan mencium bibirku. Kami berciuman bibir. Saat lidahku kujulurkan untuk membuka bibirnya, terasa ada cairan dari mulut Nini yang memasuki mulutku, ternyata itu adalah spermaku sendiri. Nini menjulurkan lidahnya dan menyedot spermaku kembali. Lalu kami berciuman sambil bermain-main dengan spermaku.
Ternyata jawabanku cukup memuaskannya sehingga Nini tidak bertanya lebih lanjut. Selang beberapa lagu, Nini menarik Rara untuk menggoyangkan tubuhnya di lantai dansa. Terlihat mereka berdua bergoyang dengan santainya sambil sesekali mengobrol. Tak lama kemudian terlihat Nini melambaikan tangannya padaku. Aku mendekat sehingga kami bertiga ada di lantai dansa dengan dan bergoyang seadanya.
"Vir.. Rara kangen sama kamu, katanya" Nini berkata hingga terdengar pula oleh Rara. Rara hanya tersenyum simpul malu malu. "Kalau nggak ada suamimu, aku cium kamu di sini lho" aku menggodanya. "Kalau nggak ada Nini, aku yang cium kamu di sini" tantang Rara. "Tuh suamimu sedang nggak ada di meja, kita cium Virano sama-sama aja Ra" ajak Nini. Rara dan Nini serentak mencium pipi kiri dan kananku, dan Rara mengecup bibirku dilanjutkan dengan Nini juga mencium bibirku agak lama sambil mengalungkan tangannya ke leherku. "Itu yang aku mau" protes Rara. "Vir, aku mau undang Rara makan siang besok, boleh nggak?" tanya Nini. "My pleasure, Ni" aku menyetujui. "Kamu dengar sendiri kan? Jadi nggak usah nolak lagi ya Say?" ujar Nini pada Rara. Rupanya Nini sudah mengundang Rara sebelumnya namun Rara ragu dan ingin meminta konfirmasi dariku lebih dulu. Kami meninggalkan club tersebut pada jam 2:30 dan kembali ke hotel di Nusa Dua. Sepanjang jalan, Nini bercerita bahwa beberapa orang teman Arif termasuk suami Rara berusaha menarik perhatian Nini dan bahkan ada yang berterus terang menngajak Nini kencan malam ini. "Aku tahu kok, malah mata suami Rara nggak bisa lepas dari dada dan paha kamu. Dan aku juga tahu, kamu malah dengan sengaja, kadang-kadang kamu buka paha kamu sehingga dia bisa lihat CD kamu kan?" aku berkata. "Kok kamu nggak ngelarang aku sih?" rajuknya. "Aku juga menikmati sensasi tersebut sayangku, semakin banyak lelaki yang mabuk kepayang sama kamu, semakin bangga aku jalan bersama kamu. Tapi tidak demikian dengan suami Rara, dari cara Rara berpakaian, aku dapat menilai sifat suaminya. Padahal dulu Rara termasuk berani dalam berpakaian, yah seperti kamu sekarang ini deh" ceritaku. Setibanya di hotel, kami kembali mengarungi lautan nafsu birahi, berusaha untuk saling memuaskan satu sama lain. Nini memang seorang yang sangat piawai dalam memuaskan lelaki, namun dia juga sangat membutuhkan kepuasan untuk dirinya sendiri dan aku pun berusaha untuk memuaskan dia. Kami bercinta sampai jam 5 pagi lalu tertidur. Lalu ada jam 11 terbangun oleh telepon dari Rara yang dijawab oleh Nini. Saat mereka mengobrol di telepon, aku putar badanku lalu aku jilat vagina Nini dengan penuh nafsu hingga Nini mengerang keenakan dan Rara menanyakannya. "Virano sedang breakfast, oohh.. Viir.. Aku lagi telepon nih.." desahnya. "OK deh, lu ke sini aja cepat, gua butuh bantuan nih, Virano lagi ganas" katanya pada Rara. Seketika Nini menutup telepon, aku pun berhenti menjilati vagina Nini. Dia protes, tapi aku meninggalkannya ke kamar mandi untuk mandi. Nini merajuk hingga mengatakan aku curang. Selesai berendam sekitar 15 menit, aku kenakan jas kamar mandi warna putih tebal dengan CD di dalamnya dan baru kemudian Nini menyusul masuk kamar mandi. Aku pesan makanan dari Room Service dengan tak melupakan 2 telur setengah matang pesanan Nini. Saat menunggu makanan, bel berbunyi. Aku kira Room service, ternyata Rara muncul dengan tank top kuning dan jeans, serasi sekali dengan kulitnya yang putih. "Vir..,.. Baru mandi ya.., Mana Nini?" tanyanya sambil memajukan wajahnya dan aku kecup pipinya. "Oh ada.. Tapi lagi mandi.. Masuk aja" ujarku sambil mempersilakannya masuk. "Sudah selesaikah?" tanyanya penuh selidik. "Apanya yang selesai, cuma appetizer kok" jawabku. "Kok cepet, emangnya rumah kamu dekat sini?" tanyaku. "Bukit Jimbaran, 20 menit saja sudah sampai ke sini" jawabnya. "Mana suamimu?" tanyaku. "Sedang di kantor, nanti sore mau ke Jakarta. Orang tuanya sakit, aku sudah bilang mau ajak kalian jalan jalan, dan dia OK. Malah dia titip salam buat Nini" kata Rara. "Sst, jangan sampai dia dapat Nini, bahaya" bisikku. "Emangnya kenapa? Nini hebat ya?" bisiknya lagi takut terdengar Nini dari kamar mandi. "Buat aku, she's the best. Selama ini, aku agak kewalahan mengimbanginya" "Masa kamu kewalahan, mungkin aku bisa belajar dari dia ya?" ujarnya penuh arti. "Kalau kamu sehebat Nini, aku yakin suami kamu nggak akan cari cewek lain, kalau cari pun pasti balik lagi hehe.." godaku. Lalu Nini selesai mandi, juga mengenakan jas handuk seperti punyaku. Aku yakin tidak ada apa-apa lagi di baliknya. Aku duduk di belakang sofa mereka dengan menarik kursi rias. Aku memperhatikan mereka mengobrol dan sesekali menimpali obrolan mereka. Rara memintaku menuang minuman yang dia bawa, sebotol Cointreau kesukaanku.. Aku menuangkannya 3 gelas. Aku membawanya beserta es batu. Aku menuangkan minuman ke gelas mereka. Setelah minum beberapa gelas sambil mengobrol, tangan Nini masuk ke balik kimonoku dan mengelus 'adik'ku sehingga tegang dan keras. Nini melirik dan tersenyum sambil terus mengobrol dengan Rara. Rara tidak memperhatikan yang dilakukan oleh Nini terhadapku. Nini menarik sedikit CD-ku dan mengelus batangku dengan lembut. Tampak Rara melihat apa yang dilakukan Nini tanpa Nini menyadari bahwa Rara tahu apa yang dilakukannya terhadapku. Aku duduk menyandar dan membiarkannya. Tangan Nini mengisyaratkan agar aku membuka CD-ku dan matanya melirik. Aku ke kamar mandi membuka CD-ku. Lalu aku kembali dan Nini melanjutkan mengocok halus batangku sementara Rara mencuri pandang ke arah selangkanganku. Rara tersenyum melihatku pasrah dan aku juga tersenyum ke arahnya. Sementara mereka melanjutkan mengobrol sambil minum beberapa gelas lagi, tangan Nini terus aktif mengocok halus batangku. Aku hanya bisa menahan nafas atau berkejap-kejap menikmati pijatan dan kocokan tangan Nini. Rara terus saja mencuri pandang dan kimonoku tersingkap sehingga terlihat jelas tangan Nini yang sedang mengocok batangku. Nini tidak menyadari hal itu karena sudah sedikit mabuk. Mereka berdua terus mengobrol. Tapi mata Rara lebih sering lagi melirik ke belakang. Aku berdiri tapi Nini tidak juga melepas kocokan tangannya. Aku membiarkan kimonoku terbuka sehingga Rara dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan Nini. Aku elus rambut Nini dan Nini secara tidak sadar menolehkan kepalanya hingga menyentuh kepala 'adik'ku dan melanjutkan dengan menjilatnya. "Sshh.. Mm" desahku. Nini terus saja menjilat dan mulai menghisap 'helm'ku. Rara melihat dengan jelas apa yang Nini lakukan dan aku menarik tangan Rara. Rara menggeser duduknya. Aku berjalan ke depan Nini tanpa Nini melepas tangannya dari batangku. Aku sudah berdiri di depan Nini dan Rara sementara Nini kembali menjilat, mengocok, serta menghisap batang kejantananku. "Ra, kontol ini masih sama nggak rasanya sama dulu waktu masih lu pakai?" tanya Nini. Aku menarik Rara sehingga berlutut di depanku dan Nini duduk di belakangnya. Aku menunduk dan mencium bibir Rara dan Rara tidak menolak. Kami berciuman cukup lama, sementara tangan Rara ikut mengelus batangku dan mengocoknya pelan. Sementara itu Nini tampak meremas buah dada Rara sambil mencium telinganya. "Ini buat kamu Rara.. Isep kontolnya.. Aku mau liat cara oral lu" bisik Nini. "Kata Virano, you are the best for him, ajari aku ya?" pinta Rara. Lalu Rara mulai menjilat seluruh batang penisku dari ujung kepala sampai pangkalnya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. "Sshh.. Mmhh.. Yyeess.. Hhmm.." desah Rara. Lalu aku meminta Rara untuk berdiri. Tank top Rara sudah dibuka oleh Nini sehingga hanya tersisa bra warna merah tua. Aku berlutut di depannya dan berciuman dengan Nini. Nini berlutut di sampingku lalu membuka kancing celana Rara dan aku membuka BH-nya. Lalu Nini melepas celana Rara dan melemparnya entah kemana hingga Rara hanya tinggal mengenakan G-String. Aku berdiri dan meminta Nini untuk duduk di sofa lalu kucium telinganya. "Sshh.. Mm.. Mm" desahnya sementara tanganku meremas buah dadanya. "Yyaa.. Mmpphh.. Tterruuss Vii" desahnya sambil tangannya mengocok batangku. "Kontol kamu gede ya.. Aku suka Vir.. Rara juga mau tuh" katanya sementara tangan kirinya memeluk leherku. Kami terus berciuman lalu Rara berlutut dan mencium batangku. Aku melirik Nini dan dia hanya tersenyum melihatku. Aku pun balas tersenyum. Rara menjilat dan menghisap batangku serta lidahnya tidak kalah lincah menari menjilati serta melumuri batangku dengan ludahnya. Aku duduk di sebelah Nini dan Rara terus menghisap batangku tanpa menghiraukan keberadaan Nini. Tangan kanannya terus mengocok batangku sementara mulutnya menghisap 'helm'ku dan lidahnya menari menjilatinya juga. Kepala Rara terus naik turun menghisap, menjilat dan mengulum batang kejantananku.. "Sshh.. Ohh.. Yyeess.. Ra.." desahku sambil mengelus rambut Rara dan tangan kananku meremas payudara Nini yang duduk menghadap ke arah kami. "Sshh.. Ohh" desahku sambil menarik Nini dan berciuman. Sementara aku berciuman dengan Nini, Rara masih sibuk mengoralku hingga birahiku memuncak dan cairanku sudah mencapai ujung. "Mmhh.. Mmhh.. Mphh" jeritku tertahan oleh Nini yang memeluk dan terus mencium bibirku. "Aahh.. Yyeeaa.. Ohh.. Aacchh" jeritku setelah Nini melepas ciumannya. Rara terus menelan dan menghisap penisku. Rara menelan semua spermaku lalu tersenyum dan mencium telingaku. "Kontol kamu enak Vi.. Aku suka.. Aku pingin nih" bisiknya meminta. Aku tersenyum dan mengangguk, kucium bibir Rara yang masih ada sisa spermaku. Aku duduk di antara Rara dan Nini sementara Nini mengelus batangku lagi dan aku mencium bibir Rara. "Mm.. Mm.. Makasih ya.. Isepan kamu enak lho, beda sama dulu.. Kalah dikit ama Nini" ujarku sedikit memuji Rara. "Mm.. Bisa aja kamu Vir" balasnya. Nini terus mengelus batang penisku hingga kejantananku mulai tegang dan Nini menjilat dan mengocoknya pelan. Aku meremas dan menghisap kedua payudaranya "Sshh.. Trus.. Vir.. Iisseepp yaa.. Sshh.." desahnya nikmat. Sementara aku menghisap payudara Rara, Nini menghisap penisku. "Ra, perhatikan cara Nini ngisep kontolku" kataku. Rara melihat Nini yang sedang menjilati dan mengisap penisku sambil mengerang-ngerang karena buah dadanya aku hisap. Aku menarik turun CD Rara dan meraba vaginanya "Shh.. Yyeess" desisnya sambil kumainkan clitorisnya dengan jariku. "Oohh.. Viir.. Eehhmm.. Mmpphh.. Jilat.. Vii.. Jilat..!" desahnya nikmat. Rara berdiri dan mengangkangi kepalaku "Jilat Vir.. Jilat vaginaku.. Oohh.. Mhh" jeritnya tertahan saat aku menjilat dan mengulum clitorisnya sementara Nini masih mengoralku dan tangan kirinya menggosok vaginanya sendiri. Aku meminta Nini berhenti mengocok penisku dengan mulutnya, lalu kuminta Nini memperagakan gerakan mulutnya seperti di kamarnya, dan dia mulai dengan gerakan-gerakan itu. Rara melotot melihatnya terkagum kagum. "Nini, gantian gua mau coba, ajarin gua ya" pinta Rara. Lalu Rara mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Baru sampai setengahnya, Rara sudah tersedak. Nini mengajari Rara bagaimana cara mengendalikan otot lehernya agar penisku bisa masuk ke tenggorokannya, lalu Rara mencoba dengan gerakan menelannya. Lumayan, Rara bisa sedikit walaupun masih diiringi dengan batuk berkali kali. Rara kelelahan, lalu melepaskan penisku dari mulutnya. Aku berdiri, lalu meminta Rara berlutut di atas karpet dan menghadap sofa. Aku berlutut di belakangnya dan menggesekkan penisku ke vaginanya. "Sshh.. Vir.. Masuukkiinn Ssaayy.. Sshh.. Yyeess..!" jeritnya saat penisku memasuki vaginanya yang sudah basah karena jilatanku ditambah penisku yang juga sudah basah karena ludah Nini yang sejak tadi mengoralku. "Sshh.. Ach.. Ach.. Aacchh.. Teruss.. Aacchh.. Teruss say.. Fucckk.. Mmee.. Aacchh.. Yyeeaah.. Thatss.. Goodd.. Ffuuckk.. Mee" desahnya sambil kedua tangannya meremas sandaran sofa. Aku menggenjot Rara dengan ritme teratur.
Nini tidak tinggal diam, badannya disusupkan telentang di bawah badan Rara. Kepalanya sekarang berada tepat di bawah vagina Rara sehingga dapat melihat dengan jelas penisku yang keluar masuk vagina Rara. Ditariknya bantal dan ditempatkan di bawah kepalanya. Nini mulai menjilati klitoris Rara dan penisku setiap kali penisku keluar dari vagina Rara. Rara tampak sangat menikmati tusukan penisku dan jilatan Nini. "Aahh.. Aakkuu.. Kkeelluuaarr.. Ohh.. Ohh.. Aacchh.. Yyeess.. i'm cumming!" jeritnya menikmati saat mencapai klimaks sementara penisku terasa dipijat dan diremas-remas oleh vaginanya yang mengeluarkan cairan hangat dan menyiram batang penisku. Kucabut penisku, ganti Nini menghisap vagina Rara dan menjilati seluruh cairan yang keluar dari vagina Rara. Aku mulai mengarahkan lidahku ke anus Rara, kudorong lidahku dalam-dalam lalu kusedot kuat-kuat. Rara berkelojotan diserang oleh kami berdua hingga Rara ambruk menindih Nini yang berada di bawahnya. Lalu aku berciuman dengan Nini sambil sesekali menjilat vagina dan anus Rara yang berada tepat di hadapan kami berdua. Sekarang Nini duduk menghadap kami berdua sambil meraba dan melakukan masturbasi. Keadaan ini membuatku semakin bersemangat, lalu kuminta Rara untuk mengubah posisi dan menggenjotnya. Aku mendudukkan Rara di meja dan aku berada di depannya. Rara telentang di atas meja. Aku mengangkat kedua kakinya dan aku letakkan di pundakku hingga membuat penisku langsung menghadap vagina Rara. Kumasukkan batang kejantananku dan aku menggenjot Rara lagi. Nini naik ke atas meja dan menduduki wajah Rara hingga mau tak mau Rara mengeluarkan lidahnya dan mengaduk-aduk vagina Nini. Sesekali Nini juga menyodorkan anusnya untuk dijilat Rara hingga tak ada jalan lain bagi Rara untuk juga menjilati dan menyedotnya. "Shh.. Aahh.. Yyeess.. Keluarin.. Ach. Ach.. Yyeeahh" desahnya nikmat. Sementara tanganku masih meremas kedua payudaranya, kedua tangan Rara mencengkeram pinggir meja makan dan.. "Oohh.. Vir.. Aammppuunn.. Aakkuu.. Gaakk.. Kuuatt..!" jeritnya menikmati klimaks untuk kedua kalinya. Lalu Rara berdiri dan menciumku. "Makasih ya Viir.. Kontol kamu enak banget" bisiknya. Sementara Nini yang masih mengusap dan memasukkan jarinya ke vaginanya mendorongku hingga telentang dan memasukkan penisku yang masih tegang agar masuk ke vaginanya. Nini mulai menggenjot. Kuraih kepala Rara, kucium lalu kuminta dia agar menghisap anus Nini dari belakang. Rara segera melakukan yang kuminta, jarinya didorong memasuki anus Nini dan mengocoknya dari pelan menjadi semakin cepat. "Oohh.. Ra.. Kamu nakal.." jerit Nini nikmat ketika aku menyodok vaginanya dengan penisku serta Rara mengorek anusnya. "Cepet Say.. Cepet Say.. Aku.. Keluar.. Aakkuu.. Aahh.. Aahh..!" jerit Nini, badannya bergetar mencapai klimaks. Aku terus menggenjot Nini dan.. "Aahh.. Nini..!" jeritku. Nini buru-buru mencabut dan menghisap penisku. Aku klimaks lagi. Nini menelan sebagian spermaku dan Rara menghampiri untuk minta bagian. Lalu mereka saling berciuman dengan hangat dan bermain-main dengan spermaku. Kemudian Rara terduduk memandangiku sambil tersenyum. Setelah itu aku mandi dan mengganti baju di kamar. Dari kamar mandi yang pintunya tidak kututup, aku dapat mendengar pembicaraan mereka. "Wah.. Ni, gila bener lu.. Permainan lu menakjubkan, pantas saja kata Virano, lu is the best, kalian seimbang ya?" kata Rara. "He is the best for me too Ra.., waktu pertama kali main sama dia, agak kewalahan juga gua, kalo sekarang gua dan dia udah biasa dan memang gua rasa, kami seimbang dan cocok. Gua bisa sangat terbuka, demikian juga dia dalam soal sex. Padalah gua juga baru kenal 3 hari yang lalu, tapi rasanya sudah kenal berbulan-bulan" kata Nini. "Gua baru kali ini main bertiga gini lho" kata Rara. "Gak pa-pa lah. Buat sekali-kali cari sensasi. Dari pada ama suami sendiri terus. Bosen. Gayanya gitu-gitu aja kan?" Nini membalas. "Tapi jujur lho. Baru kali ini gue ngesex dengan sepenuh hati kaya tadi. Nafsu birahi benar benar membakar tubuhku, gua nggak sadar kenapa bisa gua lakukan hal-hal seperti tadi" kata Rara lagi. Aku keluar dari kamar mandi lalu berbaring kecapaian di ranjang. Sementara Nini dan Rara terus mengobrol, aku tertidur. Pada jam 5 aku terbangun, kulihat mereka telah tertidur di sampingku. Kujilat puting susu Nini lalu beralih ke vaginanya. Nini terbangun lalu tangannya bergerak mencari penisku, dielus elus dan dikocoknya. Aku mendekat ke telinga Nini. "Mau sensasi lebih?" bisikku. "Siapa lagi?" rupanya Nini mengerti maksudku. "Arif" sahutku pelan. "Lebih baik jangan, karena tampaknya dia tahu siapa aku" sahutnya, aku membenarkannya. "OK, kita keluar malam ini bertiga, kamu boleh menentukan cowok yang kamu sukai, nanti biar aku yang atur" kataku. "Deal" sambutnya. Setelah makan malam, kami bertiga mengunjungi sebuah club yang berada di tepi pantai kawasan Legian. Nini memakai rok terusan ketat mini warna kulit berbahan kaus tipis agak transparan mencetak tubuhnya, tanpa lengan dengan belahan V yang rendah hingga memperlihatkan sebagian buah dadanya yang tidak mengenakan BH. Rara mengejutkanku, dia memakai rok terusan hitam yang dia pakai saat pertama kali ngesex denganku 7 tahun silam, namun kali ini dia tidak mengenakan BH. "Hey, Ra.. Aku masih ingat baju itu, kamu masih menyimpannya?" aku bertanya. "Sejak saat itu aku simpan dan tidak pernah kupakai, baru kali ini kupakai lagi" jawabnya. Saat beberapa gelas minuman telah habis, Nini mulai tampak liar, berdansa meliuk-liukan badannya sambil tangannya terkadang diangkat ke atas membuat rangsangan pada kaum lelaki. Karena club ini open air dan tidak ada AC, sebentar saja tubuh Nini telah berkeringat hingga membuat bajunya basah dan memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas. Bagian dadanya sangat jelas tampak dengan puting yang tercetak di dadanya. Sedangkan Rara pun telah bergelayut di leherku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga kembali membuat penisku menegang sementara Nini di sampingku. Kulihat seorang pria mencoba mendekati Nini dan bergoyang di depannya. Nini dengan demonstratif menari semakin erotis di hadapan pria itu. Kulihat pria tersebut, lumayan keren.. Akhirnya kulihat Nini sudah memegang pinggang cowok tersebut sambil menggesekkan bagian bawah perutnya ke penis cowok tersebut hingga keenakan cowok tersebut dibuatnya. Terlihat cowok tersebut memegang erat pantat Nini dan meremasnya. "Vir.. Kenapa kamu biarkan Nini seperti itu? Kamu nggak marah..?" Rara bertanya. "I am an easy going person, Sayang, kalau dia senang melakukan itu, biarlah dia melakukannya" jawabku. "Kalian sangat moderat ya" bisiknya. Sambil masih berpelukan dengan cowok tersebut, Nini melangkah mundur mendekatiku lalu menyandar di badanku sehingga tangan cowok tersebut terjepit di antara Nini dan aku, tapi cepat cepat ditariknya tangannya. Nini menarik tangan kiriku dan dibawanya ke pantatnya kemudian aku raba pantatnya sampai ke pinggangnya. Kubisikan sambil kujilat telinganya di depan muka sang cowok.. "Kamu nggak pakai CD ya?" Nini membalikkan wajahnya sambil tersenyum padaku. "Katanya disuruh cari sensasi baru?" jawabnya manja sambil diraihnya kepalaku dengan tangan kanannya, lalu kami berciuman. Sementara tangan kananku masih memeluk Rara, jari kiriku kumasukan ke mulut Nini agar basah, lalu menjalar ke balik roknya mencari lubang anusnya. Setelah kutemukan, kukorek dan kumasukkan jariku ke dalam anusnya. Nini menggelinjang lalu diraihnya tangan kiriku dan dibawanya ke arah dadanya melewati pinggangnya lalu kuremas dadanya. Tak hanya sampai di situ, tangan kiri Nini menjalar ke belakang menggapai penisku yang telah mengeras lalu diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Nini melakukan semua itu dengan liarnya di depan hidung sang cowok itu hingga cowok tersebut memandang sampai terbengong-bengong tak dapat berkata apa pun melihat kelakuan Nini. Akhirnya Nini melepaskan ciumannya padaku dan kembali menghadap ke depan lalu menarik leher cowok tersebut. Kudengar Nini berkata.. "Tadi lu ngajak gua ngewe kan?" Cowok tersebut masih bengong. "Dia ini cowokku, tapi gua malam ini mau cowok satu lagi, kalau lu bisa penuhi dua syarat gua, mungkin lu bisa ikut kami bertiga sekarang" Nini berkata lagi. "Syaratnya apa?" tanya cowok tersebut. "Pertama gua mau coba lidah lu di vagina gua sekarang" Wah, Nini sangat liar malam ini, pikirku. "Kedua, kontol lu musti setidaknya sama besar dan panjang seperti cowok gua" tantang Nini. Aku setengah terkejut mendengar syarat Nini tapi aku juga tersenyum mendengar persyaratan yang kedua itu. Mungkin cowo tersebut sudah sedemikian bernafsunya sehingga mengiyakan saja syarat yang diminta Nini. Kebetulan meja kami berada di pojok dekat pinggir laut dan berada di kegelapan. Nini yang duduk di kursi tinggi lalu menarik roknya ke atas serta membuka kakinya. Cowok tersebut menunduk dan mulai menjilat vagina Nini sementara Nini tetap menggoyangkan badannya. Sekitar semenit cowo tersebut menjilat vagina Nini lalu Nini menghentikannya. "Sudah, sudah, not bad.." kata Nini akhirnya. "Sekarang lu kan sudah terangsang jilatin vagina gua, coba gua pegang kontol lu", dengan enteng Nini meraih celana cowok tersebut lalu membuka ritsletingnya dan mengeluarkan penis cowok tersebut. Berukuran kira-kira 13cm, tapi lingkarannya kecil, mungkin 3 cm saja. Hmm.. Aku tersenyum melihatnya. "Nggak lulus, punya cowok gua lebih panjang dan besar, perlu bukti??", Nini meraih celanaku dan mengeluarkan penisku yang masih lemas. Nini menundukkan kepalanya lalu mulai menjilat dan menghisap penisku. Seketika itu pula penisku mengeras namun belum sempurna. Nini melepaskan kulumannya dan meminta cowok tersebut untuk melihatnya. "Percaya?" kata Nini sambil dengan kurang ajar sedikit mendorong kepala cowok tersebut ke bawah untuk dapat melihat dengan jelas penisku. Cowok tersebut pergi meninggalkan kami dengan kecewa dan Nini hanya tertawa sambil meneruskan goyangannya. Untung saja kami berada di pojok kegelapan dan yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahui perbuatan Nini tadi. "Huuh.. Apakah sensasiku cukup menarik buat kamu, Sayang?" kata Nini. "Lu gila Ni.. Gimana kalau cowok tadi marah lu permainkan gitu?" kata Rara. "Kalau dia marah, paling-paling gua kasih blow job, bereslah" jawab Nini seenaknya. "Mau di sini terus atau mau pindah?" ajak Nini. "Pindah aja" tegas Rara. "Pusing gua liat Nini, lama-lama jadi horny lagi gua" lanjutnya. "Bukannya memang udah horny lu, tuh ada Virano bisa bantuin lu, atau mau sama gua lagi? Tapi Virano juga musti ikut, soalnya gua kan bukan lesbi asli" kata Nini seenaknya. "Mumpung di Bali, jarang ada yang kenal, kalau di Jakarta nggak mungkin lah gua kaya begitu" katanya pula. Lalu kami meninggalkan tempat itu menuju hotel. Aku dan Nini berdua mengeroyok Rara habis-habisan sampai Rara berteriak menyerah setelah orgasmenya yang ke-5, sedangkan aku dan Nini masing masing orgasme sekali. Lalu kami mengantar Rara pulang ke rumahnya dan kami kembali ke hotel melanjutkan nafsu yang tertahan karena aku masih ingin memberi kenikmatan lebih pada Nini. Jam sudah menunjukkan pukul 5pagi. Sore harinya Rara akan datang kembali ke hotel. Aku dan Nini kembali ke Jakarta pada hari Senin dengan pesawat yang berbeda tentunya. Hubungan sex-ku dengan Nini terus berlanjut 3-4kali dalam sebulan dan berlangsung kurang lebih selama 3 tahun. Kalau di Jakarta pasti dilakukan di rumahnya, tapi kadang kami juga pergi ke luar kota atau luar negeri. Variasi dan teknik permainan Nini yang begitu beragam seakan tidak pernah ada habisnya, selalu saja ada kejutan-kejutan baru yang sampai dengan saat tulisan ini dibuat, menurutku she is the best amongst all up to now. Saat itu pernah aku berpikir, tidak heran bahwa Nini dapat memperoleh kehidupan yang sedemikian mapan serta teknik permainan sex yang luar biasa seperti itu karena mungkin hal ini memang sangat berhubungan erat dengan pekerjaan dan karier yang dibinanya selama ini. Profesinya itulah yang kubiarkan tetap menjadi misteri dalam cerita ini, barangkali saja ada pembaca yang bisa mengungkap. Atau mungkin saja ada di antara pembaca yang juga pernah berhubungan dengan Nini sehingga tentunya akan dengan mudah menebak siapa dia sebenarnya. E N D
